BALIEXPRESS.ID - Kritik terhadap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mulai terlihat di ruang publik, salah satunya lewat spanduk yang menyita perhatian warga Kota Bandung dan Cirebon.
Di sejumlah titik strategis seperti simpang Jalan Diponegoro dekat Gedung Sate, depan Taman Pramuka di Jalan LLRE Martadinata, serta Simpang Jalan Merdeka, terbentang spanduk bertuliskan “KDM Lain Bapak Aing” — sebuah sindiran yang merespons jargon populer sang gubernur “Bapak Aing” di kanal YouTube miliknya.
Spanduk itu mencantumkan foto Dedi Mulyadi, dan pemasangannya dilakukan di tempat yang mudah terlihat oleh pengendara.
Hingga saat ini, belum diketahui siapa yang memasang spanduk tersebut.
Sebelumnya Di Cirebon, muncul pula spanduk serupa dengan tambahan nada sindiran: “KDM Lain Bapak Aing, Tapi Bapak Tiri,” yang merujuk pada kekecewaan terhadap kondisi infrastruktur di wilayah Cirebon timur.
Sindiran ini muncul di tengah kebijakan-kebijakan kontroversial Dedi Mulyadi yang mulai diterapkan dalam dua bulan masa jabatannya sebagai gubernur.
Di antaranya adalah larangan studi tur dan wisuda perpisahan di sekolah, serta program pengiriman siswa bermasalah ke barak militer melalui kerja sama dengan Kodam III/Siliwangi.
Selain itu, anggaran hibah untuk pesantren serta iklan media juga mengalami pemotongan drastis.
Menanggapi kritik yang diarahkan padanya, termasuk dari warga Cirebon, Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa beberapa masalah yang diprotes bukan berada dalam kewenangan provinsi.
Ia menyampaikan hal tersebut saat acara Musrenbang RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2025–2029 dan RKPD Tahun 2025 di Gedung Negara, Bale Jaya Dewata, Cirebon.
“Saya selama ini dikritik, tidak pernah habis. Yang paling menarik, di Cirebon, ada orang yang marah ke saya, jalan di Cirebon goreng (jelek), gubernurna lain bapa aing, tapi bapa tere (gubernurnya bukan bapa aing, tapi bapak tiri),” ujar KDM.
Ia menekankan bahwa jalan yang dikeluhkan merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten.
“Kunaon jalan kabupaten, ngambek ka aing ai sia? Kunaon teu ngambek ka bupati na? Kan menjadi aneh,” lanjutnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana