Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Terapkan Jam Malam Anak! Dedi Mulyadi Contoh Anak Pesantren Era 70-an: Ternyata Ini Alasannya

Nyoman Suarna • Minggu, 8 Juni 2025 | 19:40 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

BALIEXPRESS.ID – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menegaskan pentingnya penerapan peraturan jam malam bagi anak-anak.

Menurutnya, aturan ini bukan sekadar bentuk pengendalian sosial, melainkan bagian dari strategi pendidikan karakter serta mendorong pola hidup sehat bagi generasi muda.

"Pembatasan jam malam ini saya dorong agar anak-anak bisa kembali tidur lebih awal, idealnya pukul 20.00 malam," ujar Dedi Mulyadi lewat kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.

Menurutnya, istirahat yang cukup sangat berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental anak. Dengan tidur lebih awal, anak-anak diharapkan bangun lebih pagi dan memulai hari dengan kebiasaan positif.

“Dengan begitu, mereka bisa bangun pukul 04.00 pagi, mandi, merapikan tempat tidur, melaksanakan salat subuh, sarapan, dan berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki,” jelas Dedi.

Lebih lanjut, mantan Bupati Purwakarta ini juga menyoroti manfaat berjalan kaki ke sekolah. Menurutnya, kebiasaan sederhana ini memiliki dampak besar bagi kesehatan anak.

“Jalan kaki melatih kekuatan kaki, menjaga kesehatan jantung, melatih pernapasan, serta membantu tubuh mengeluarkan racun lewat keringat,” katanya.

Dedi Mulyadi juga menepis anggapan bahwa anak-anak akan sulit menikmati pagi hari jika tidur lebih awal.

Ia mencontohkan tradisi pesantren yang sejak dulu mengajarkan pentingnya pemanfaatan waktu subuh.

“Guru-guru dan kiai besar kita mendidik banyak orang saleh dengan memanfaatkan waktu subuh sebagai bagian penting dari pendidikan karakter,” ungkapnya.

Bahkan, ia mengenang praktik di pesantren era 1970-an, di mana anak-anak dibiasakan bangun tengah malam untuk salat tahajud dan menjalani hidup sederhana.

Menurut Dedi, menjadi anak saleh tidak hanya soal asupan gizi atau akses teknologi, tetapi juga soal membangun spiritualitas yang kuat.

“Anak saleh bukan hanya ditentukan oleh makanan bergizi atau teknologi, melainkan juga oleh spiritualitas yang memadai,” tegasnya.

Melalui kebijakan ini, Dedi Mulyadi berharap dapat membentuk generasi muda Jawa Barat yang sehat, tangguh, disiplin, serta memiliki karakter kuat yang selaras dengan nilai-nilai budaya dan spiritualitas bangsa. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#anak #pesantren #dedi mulyadi #jam malam