Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kronologi Dua Mahasiswa Diduga Jadi Korban Pemerasan Oknum Polisi, Dituding Mesum Hingga Diminta Uang Damai

Komang Wira Muliartana • Kamis, 26 Juni 2025 | 17:05 WIB

Dua Mahasiswa Diduga Jadi Korban Pemerasan Oknum Polisi di Surabaya
Dua Mahasiswa Diduga Jadi Korban Pemerasan Oknum Polisi di Surabaya

BALIEXPRESS.ID-Dua mahasiswa, Kirana dan Reyhan, dari salah satu kampus swasta di Surabaya Selatan, diduga menjadi korban pemerasan oleh dua oknum anggota polisi.

 Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis malam (19/6) sekitar pukul 22.00 WIB, setelah keduanya menghadiri acara resepsi pernikahan. Insiden bermula ketika mobil Pajero yang dikendarai Reyhan terserempet oleh sepeda motor di kawasan Surabaya.

Baca Juga: Hari Kedua KKN, 3 Mahasiswi UGM Dapat Pengalaman Unik: Belajar Tari Bali dari Dua Bocah di Gianyar

Dalam unggahan akun Instagram @jawapos pada Rabu, 25 Juni 2025.

Setelah kejadian, Reyhan menepi di Jalan Raya Taman Asri untuk mengecek kondisi kendaraannya. Namun, situasi justru berubah mencekam.

 “Begitu menepi mau ngecek kendaraan, tiba-tiba digebrak-gebrak sama dua oknum polisi,” ungkap Djumadi, ayah Kirana pada Selasa (24/6).

Menurut penuturan Djumadi, satu oknum polisi mengenakan seragam lengkap dan menggedor pintu mobil sisi kanan, sementara rekannya yang berpakaian preman menggedor dari sisi kiri.

Keduanya mengaku sedang menggelar operasi gabungan dan menuding Kirana dan Reyhan telah melakukan perbuatan mesum di dalam mobil, hingga dianggap melanggar hukum dan layak dirazia.

Baca Juga: Presiden Prabowo Tertib di Jalan Saat Kunjungan ke KEK Sanur, Berhenti di Lampu Merah Meski Dikawal, Tuai Pujian

Lebih lanjut, salah satu dari oknum yang diketahui bernama Bripka Hengki, bahkan mengambil alih kemudi mobil Reyhan.

 “Anak saya sama temannya ini langsung dibawa ke arah Polda. Tapi, begitu sampai Polda malah diajak muter-muter nggak jelas,” imbuh Djumadi, warga Waru, Sidoarjo.

Alih-alih menjalani proses hukum di kantor polisi, keduanya justru dimintai uang "damai" sebesar Rp 10 juta.

Karena tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut, mereka hanya mampu memberikan Rp 650 ribu. Namun, pemerasan tak berhenti di situ.

Salah satu oknum polisi turut memaksa Reyhan untuk menyerahkan kartu ATM beserta PIN-nya, dengan dalih agar sisa “uang damai” bisa ditransfer.

Beruntung, kartu ATM itu segera diblokir oleh pihak keluarga sebelum sempat digunakan.

Atas kejadian ini, keluarga korban melaporkan insiden tersebut ke Propam Polda Jatim, dan kasus kini tengah dalam penanganan oleh Polrestabes Surabaya.

Baca Juga: DUH! Komunitas Silat Asal Madiun Bentangkan Spanduk di Jepang, Bikin Warga Lokal Geram

Informasi sementara menyebutkan bahwa dua oknum polisi tersebut berasal dari Polsek Tandes.

Kapolsek Tandes, AKP Julkifli Sinaga, membenarkan bahwa dua anggota yang diduga terlibat sudah diamankan. “Saat ini masih dilakukan pemeriksaan internal. Penyelidikan mendalam sedang berlangsung untuk memastikan kronologi dan menindaklanjuti dugaan pemerasan tersebut,” ujar Julkifli.

Kasus ini mendapat berbagai komentar dari warganet di media sosial.

“Untung ayah korban ora terkemuka, coba itu Klo ayah korban orang biasa tambah di makan sama oknum polisi seperti itu, tulis akun @noersii

“Mereka belajar dari pengalaman polisi di Semarang,” tulis akun @rosidisumadi

“Oknum polisinya hanya diperiksa dan diamankan, ga ada sanksi,” tulis akun @kemaskemalm

Editor : Wiwin Meliana
#mahasiswa #pemerasan #surabaya #oknum polisi