BALIEXPRESS.ID-Candi Tikus yang berlokasi di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto-Jawa Timur menjadi salah satu bangunan sejarah yang menjadi peninggalan budaya dari zaman Majapahit, kurang lebih abad 13-15.
Candi Tikus merupakan simbol dari Gunung Mahameru yaitu bentuk bangunan yang semakin keatas semakin kecil seperti bangunan inti yang memiliki puncak utama yang dikelilingi oleh delapan puncak utama yang dikelilingi oleh delapan puncak yang lebih kecil.
Madikin, 60 selaku juru kunci Candi Tikus menjelaskan, tujuan dari membangun candi Tikus yaitu diyakini untuk memberi simbol atau lambang sebagai air yang keluar dari gunung.
Di dalam Candi Tikus ada sebuah kolam yang berisi air suci yang memiliki manfaat terhadap masyarakat yang mempercayainya.
Candi Tikus dikenal sebagai pemandian karena adanya miniatur candi di tengah bangunan yang melambangkan Gunung Mahameru yaitu tempat para dewa dan sumber kehidupan yang wujudnya seperti air mengalir dari pancuran yang ada disepanjang kaki candi.
“Air ini dianggap sebagai air suci segala sumber kehidupan. Jadi, makna ditempatkan peninggalan candi yaitu untuk mensucikan wilayah kerajaan Mahapati pada zaman dahulu,” jelasnya.
Pemandian didaerah kerajaan Majapahit bisa diketahui dengan adanya sumur-sumur kuno (Jobong) yang ada di tempat suci (jeroan) candi-candi di wilayah kerajaan Majapahit. selain itu juga ditemukan sumur-sumur kuno yang ditempati para warga hingga saat ini, contohnya di daerah candi yang dianggap suci.
Kepercayaan tradisional masyarakat terhadap air suci bisa disimpulkan jika kepercayaan ini sudah ada sejak masa kerajaan Majapahit.
Air suci dianggap memiliki kegunaan yang bermanfaat untuk kehidupan manusia yang percaya terhadap kekuatan yang dihasilkan dari air suci.
Manfaat air yang utama ketika masa Hindu-Budha yang diwujudkan melalui ajaran tentang air amertha. Didalam air tersebut ada kesaktian atau kekuatan magis yang abadi dan sejahtera
Didalam ajaran Hindu-Budha para dewa menyukai air, dewa dan air tidak bisa dipisahkan. Raja Jawa kuno (Majapahit) dilihat sebagai dewa yang hidup di alam semesta, air yang digunakan untuk kebutuhan setiap hari seperti air amertha.
Bekas air yang digunakan para raja dan saudaranya dianggap air suci, karena sudah digunakan oleh para dewa yang sesungguhnya, maka dari itu dipercaya bisa membawa berkah dan sejahtera, yang kemudian digunakan kembali oleh masyarakat sehingga menumbuhkan kepercayaan terhadap air suci.
“Adanya asal usul kepercayaan ini berasal dari masa kerajaan Majapahit menjadikan para masyarakat pada saat ini masih percaya dengan air suci, karena sudah ada dari para leluhur sebelumnya. Kepercayaan ini terus berkembang dan dilestarikan,” paparnya.
Tidak hanya warga desa Temon saja yang percaya terhadap khasiat dari air suci ini, tetapi juga masyarakat yang berada diluar desa Temon yang mempercayai khasiat dari air suci ini, khususnya para petani yang percaya jika air suci ini bisa menjadikan sawah aman dari tikus, juga orang-orang Hindu yang percaya air suci ini merupakan air yang bisa membawa berkah untuk siapapun yang mempercayainya. (dik)
Editor : I Putu Mardika