BALI EXPRESS - Keputusan deklarasi Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar secara tiba-tiba dan mengangetkan tidak terlepas dari peran Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh.
Keputusan ini menggiring opini publik jika Anies Baswedan adalah “Petugas Partai”.
Narasi tentang Anies disebut sebagai “Petugas Partai” pun dibantah langsung oleh calon presiden 2024 dari koalisi Perubahan untuk Persatuan itu.
Dalam wawancara dengan Najwa Shihab di program Mata Najwa, Anies menjelaskan alasan ia menyetujui Cak Imin sebagai pendampingnya di pilpres mendatang.
"Apabila Pak Surya Paloh mengajukan nama yang tidak relevan dengan usaha pemenangan dan saya harus melaksanakannya, maka saya petugas partai semata-mata menjalankan," katanya dikutip, Selasa (5/9).
Anies menjelaskan, memang sejak Juni lalu telah berencana mengajak PKB untuk bergabung dengan Koalisi Perubahan untuk Persatuan.
Hal ini karena Anies ingin memperkuat suara di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang selama ini lemah di bagian itu.
"Tapi kalau yang dibawa namanya adalah yang sesuai dengan kebutuhan kita. Seperti saya sampaikan tadi di bulan Juni kepada semua, saya saran kita perlu mengundang PKB. Kenapa? Karena kita lemah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kita membutuhkan partai yang punya basis kuat di sana," sambungnya.
Dia menjelaskan, dirinya bukanlah petugas partai seperti tudingan yang selama ini tumbuh bagai jamur di musim hujan.
Anies menyebut, kalau dia petugas partai, sudah pasti dia menyetujui nama yang diajukan oleh Surya Paloh.
Anies menggambarkan, jika dirinya memang petugas partai, dia akan menerima situasi ketika Surya Paloh misalnya tiba-tiba menyodorkan nama keluarganya.
Menurut penuturan Anies, Surya Paloh menghadapi dua situasi. Yang pertama berunding dengan PKS dan Demokrat untuk mengajak PKB bergabung dengan koalisi. Namun di sisi lain akan beresiko jika PKB bergabung dengan koalisi lain.
"Pada waktu itu Pak Surya Paloh berada dalam situasi dilematis," jelasnya.
Pilihan kedua adalah membangun kesepakatan dengan PKB langsung. Tetapi, hal itu akan membuat PKS dan Demokrat merasa dilangkahi dan tidak diajak berunding sebelum memutuskan menarik PKB ke koalisi.
"Atau bangun kesepakatan sekarang, lalu menjelaskan kepada PKS dan Demokrat. Resikonya mereka merasa dilewati dan tidak diajak bicara. Dan ini sebuah ijtihad," kata Anies.
Editor : Nyoman Suarna