BALIEXPRESS.ID-Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di kediaman Prabowo di Kertanegara, Jakarta, pada akhir pekan ini menarik perhatian publik.
Pengamat politik dan ekonomi, Heru Subagia, menyebut momen tersebut bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan bagian dari dinamika politik nasional yang tengah berkembang.
Baca Juga: Jambret Sasar WNA di Imam Bonjol Denpasar, HP Dirampas Saat Buka Google Maps
Menurut Heru, relasi antara Jokowi dan Prabowo masih sangat erat, bahkan setelah pergantian kepemimpinan nasional.
Keduanya dinilai masih berada dalam satu koridor kerja sama politik yang terorganisir, terutama dalam menentukan arah kebijakan strategis negara ke depan.
“Saya meyakini, Prabowo dan Jokowi masih dalam koridor kerja sama politik. Hubungan mereka sangat dekat dan terstruktur,” ujar Heru kepada fajar.co.id, Minggu (5/10/2025).
Heru memprediksi, salah satu topik penting dalam pertemuan itu adalah langkah politik Jokowi selanjutnya, termasuk isu yang santer beredar mengenai kemungkinan dirinya bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai Dewan Pembina.
Baca Juga: BRIN Tegaskan Tak Ada Dampak Berbahaya dari Jatuhnya Meteor di Langit Cirebon
“Ada kaitannya dengan rencana Pak Jokowi menempati posisi sebagai Dewan Pembina PSI,” katanya.
Jika benar mantan presiden dua periode itu masuk PSI, menurut Heru, hal tersebut akan menjadi penegasan posisi politik Jokowi pasca tidak lagi menjabat sebagai kepala negara.
“Jokowi ingin menunjukkan bahwa dia tetap relevan dan berpengaruh dalam peta politik nasional,” ujar Heru.
Heru menilai, komunikasi Jokowi dan Prabowo harus dipahami sebagai bagian dari konsolidasi politik nasional yang tidak berhenti pasca Pilpres 2024.
Jika keduanya terus bersinergi, maka muncul konfigurasi politik yang kuat dan relatif stabil.
“Kalau benar Jokowi menjadi Dewan Pembina PSI, maka posisinya secara politik sejajar dengan Prabowo sebagai Presiden. Itu menciptakan kesetaraan dan nilai tawar politik baru,” jelas Heru.
Ia menambahkan, kunjungan Jokowi ke Prabowo menjadi sinyal awal bahwa mantan presiden itu mulai menyusun langkah politik terbuka untuk masa depan, sekaligus memperlihatkan kesiapannya tetap berperan di tengah dinamika nasional.
Baca Juga: Fenomena Langit Cirebon Terjawab, Peneliti BRIN Pastikan Meteor Jatuh di Laut Jawa
Meski melihat pertemuan itu sebagai bagian dari rekonsolidasi elite, Heru juga mengingatkan bahwa masyarakat saat ini sedang menghadapi tantangan ekonomi yang nyata. Ia menyebutkan sejumlah persoalan seperti pelemahan daya beli, kesulitan UMKM, serta meningkatnya tekanan ekonomi pada rumah tangga.
“Kita tidak bisa menutup mata. Banyak rakyat sedang kesulitan. Jika Jokowi benar-benar kembali aktif secara politik, maka ia harus membawa solusi, bukan hanya simbol,” ujarnya.
Heru berharap, kolaborasi antara Jokowi dan Prabowo tidak berhenti sebagai manuver elite, tetapi benar-benar mengarah pada kerja nyata untuk memulihkan kepercayaan publik dan mengatasi krisis ekonomi.
“Rakyat berharap duet Jokowi dan Prabowo bukan sekadar pertemuan politik, tapi langkah penyelamatan ekonomi dan sosial,” tandasnya.
Editor : Wiwin Meliana