Chou bangkit dengan cara luar biasa. Dia mampu mencetak tujuh angka beruntun untuk memungkasi pertandingan dengan skor 22-20 pada game ketiga. Laga menegangkan itu berlangsung dalam tempo 1 jam dan 11 menit.
Di game pertama, Jonatan menang cukup nyaman dengan skor 21-14. Sedangkan di game kedua, Chou tampil jauh lebih baik dan unggul 21-11. Lalu lahirlah momen game ketiga yang superdramatis itu. Jonatan awalnya bermain sangat baik. Dia unggul 18-11 dan 20-15. Tetapi pada akhirnya, dia malah tumbang dan gagal meraih tiket semifinal.
Setelah pertandingan, kedua pemain tertunduk di lapangan Tokyo Metropolitan Gymnasium. Mereka menangis dengan dua alasan berbeda. Jonatan menangis karena gagal meraih medali pertamanya di Kejuaraan Dunia. Sedangkan Chou menangis karena untuk kali pertama dalam kariernya, dia mampu meraih medali pada Kejuaraan Dunia.
Pada game pertama, Jonatan tampil luar biasa. Dia memainkan tempo dengan cepat. Menang angin, Jonatan terus mendikte permainan dan mengeksekusi serangan dengan sangat baik. Jonatan memimpin terus sepanjang game pertama. Sekalipun tidak pernah tertinggal. Mulai dari 11-5, 17-11, dan akhirnya menang dengan skor 21-14.
Pada game kedua, Jonatan yang kalah angin, gagal memberikan kejutan. Dia selalu tertinggal dalam jarak angka yang cukup jauh dan akhirnya tumbang dengan skor 11-21. (jpg/wan)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya