SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sosok Desak Made Rita Kusuma Dewi kini dikenal dunia. Ini berkat prestasinya menjadi orang kedua Indonesia yang merebut tiket Olimpiade Paris 2024.
Dara yang biasa dipanggil Desak Made Rita ini adalah, atlet Bali yang lahir dan besar di Buleleng.
Dengan keterbatasan ekonomi, Desak Made Rita sudah latihan panjat tebing sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD)
Kabar terbaru, ia adalah atlet panjat tebing yang membawa nama Indonesia berkibar di kancah internasional.
Baru-baru ini ia memenangkan kompetisi panjat tebing dunia di Bern, Swiss.
Ia layak menadi juara dunia berkat ketekunan serta disiplin tinggi yang ia lakukan.
Putri kedua dari I Dewa Putu Sekar dan Jro Komang Sariartini ini sangat bersahaja. Prestasinya di kancah dunia tidak menjadikannya lupa daratan. Meski pernah ingin dipinang oleh kontingen lain, Desak Made Rita tetap teguh memilih Buleleng.
“Pernah dulu ditawari dari Provinsi Bali untuk bergabung. Tapi saya tidak mau. Dan kalau dari negara lain sampai sejauh ini tidak pernah ditawari untuk itu. Astungkara tetap untuk Indonesia,” kata Rita saat kepulangannya ke Buleleng beberapa bulan lalu.
Gadis kelahiran 24 Januari 2001 sangat dekat dengan sosok ibunya.
Sekali waktu ia menyempatkan untuk berkomunikasi dengan sang ibu.
Meski hanya lewat jaringan telepon, ia sangat memanfaatkan waktu luang itu untuk melepas rindu.
"Selalu telepon ibu. Yang paling bikin kangen itu saat ditanya sudah makan apa belum. Kalau sudah begitu pasti ingin pulang, kangen makan masakan ibu. Teringat pindang sambal tomat, karena itu makanan kesukaan saya. Kalau di rumah ibu pasti masak itu," tambahnya.
Dibalik kesuksesan Desak Made Rita menjadi juara dunia, tentu ada lika-liku latihan yang ia lakukan.
Desak Made Rita bukanlah putri konglomerat yang dengan mudah menginginkan sesuatu.
Untuk memenuhi kebutuhannya ia harus berusaha keras. Meski tidak maksimal, setidaknya dapat menyetarai.
Ia berlatih dengan tekun. Bahkan ia sangat keras terhadap dirinya sendiri.
Rita selalu mengikuti program latihan yang diberikan FPTI Buleleng kala itu.
Hanya saja ia merasa harus menambah program latihan.
Kondisi ekonomi Desak Made Rita yang tak memungkinkan membeli alat untuk berlatih di rumah, membuat ia harus putar otak.
“Saya waktu itu tetap latihan di rumah. Tapi seadanya yang penting tidak diam. Saya ijin pinjam beban di Pengcab, lalu di rumah saya bikin program latihan untuk pull up, pakai tali sapi milik bapak,” ujarnya sembari tersipu.
Gadis dengan tinggi168 cm ini tidak pernah berubah.
Dai pantauan Bali Express (Jawa Pos Grup), Rita menekuni olahraga ini sejak kelas 2 SD.
Hingga kini menjadi atlet dunia, Rita masih tetap menyapa dengan senyum khasnya. Suaranya yang lembut masih terdengar sama seperti 10 tahun lalu.
Menjadi kebanggaan Indonesia dengan gelar juara dunia tidak membuat Rita tinggi hati. Saat pulang ke kampung halaman, Rita masihlah sosok putri kecil di mata orangtuanya.
Ketika berada di rumahnya di Desa Sambangan, Rita masih bermanja-manja dengan keluarganya.
Editor : I Putu Suyatra