DENPASAR, BALI EXPRESS – Klub kaya? Iya. Punya fasilitas oke? Tentu saja iya. Punya prestasi juara? Jelas punya. Tapi apakah sering berkontribusi untuk wakil di timnas sepakbola Indonesia? Tentunya ini menjadi tamparan keras dan sebuah ironi Bali United.
Saat klub-klub lain berlomba-lomba mencetak pemain timnas, Bali United justru monoton dan kerap menjadi penonton.
Sejak lahir tahun 2015 hingga sekarang, belum pernah Bali United menjadi klub yang paling banyak mengirim pemain untuk timnas senior.
Sebut saja dalam agenda terdekat FIFA Match Day dan juga Kualifikasi Piala Asia U23, tak ada satu nama pun punggawa Bali United yang dipanggil oleh Shin Tae-yong.
Tentunya ini menjadi tamparan sangat keras. Titel juara back to back atau juara beruntun tampaknya tidak cukup menjadi sebuah prestise dan jaminan pemain Serdadu Tridatu berseragam timnas.
Sebut saja Ricky Fajrin ataupun Ilija Spasojevic. Kedua nama ini memang menjadi andalan utama di Bali United, tapi untuk timnas rasanya tunggu dulu. Ricky Fajrin sepeninggal Luis Milla, kini jarang dipanggil. Begitu juga Spaso yang hanya beberapa kali berseragam Merah-Putih.
Selain itu, umur Spaso juga sudah uzur, bukan lagi usia emas untuk bersaing di kancah internasional.
Kadek Arel Priyatna yang menjadi pemain masa depan, juga tergusur untuk Piala Asia U23. Padahal Kadek Arel sempat bergabung ke timnas U23 saat AFC Cup U23 lalu di Thailand.
Kalau dulu memang sempat ada nama seperti Nadeo Arga Winata, Stefano Lilipaly, atau Fadil Sausu.
Namun kedua nama pertama sudah tak berseragam Serdadu Tridatu. Sementara Fadil Sausu sudah uzur dan hanya menghangatkan bangku cadangan Bali United.
Di tengah elitnya skuad Bali United yang selalu dielu-elukan pelatih rival, ternyata ada ironi di dalamnya.
Dengan fasilitas latihan yang selalu dipuja-puji, kemudian stadion yang megah, serta manajemen yang katanya profesional, untuk mengirim wakil di timnas saja rasanya kesulitan setengah mati.
Ini seharusnya menjadi catatan untuk manajemen ataupun tim pelatih. Jangan terkesan menghiraukan muara dari pembinaan sepakbola itu sendiri hanya demi kepentingan bisnis.
Editor : Nyoman Suarna