BALI EXPRESS – Salah satu derby paling seru di Liga Indonesia bisa jadi dialamatkan pada laga antara Persebaya Surabaya vs Arema FC. Dua klub besar di Jawa Timur ini selalu menghadirkan cerita baru, baik sebelum, saat, atau sesudah pertandingan.
Rivalitas kedua tim ini sebenarnya sudah terjadi puluhan tahun silam. Meskipun klub Persebaya maupun Arema FC lahir pada zaman yang berbeda. Bajul Ijo -julukan Persebaya telah lebih dulu ada yakni ketika zaman kolonial (tanggal 18 Juni 1927).
Sementara Arema dengan julukannya Singo Edan lahir era 80-an. Meski berbeda zaman, namun rivalitas keduanya sangat dinanti pecinta sepakbola Tanah-Air sampai saat ini.
Lantas kenapa kedua kesebelasan ini menjadi salah satu laga derby paling panas di Liga Indonesia? Berikut rangkuman Bali Express (Jawa Pos Group) dari berbagai sumber.
- Representasi Kota Besar, Surabaya dan Malang
Seperti disebutkan sebelumnya, Persebaya lahir pada tahun 1927. Persebaya juga menjadi salah satu peserta di Liga Perserikatan buatan kolonial Belanda. Tapi seiring waktu, mulai muncul klub asal Jawa Timur yang nantinya menjadi awal mula rivalitas ini.
Klub itu adalah Persema Malang. Baik Persebaya dan Persema merupakan representasi 2 kota besar di Jawa Timur.
Alhasil, gengsi kedua kota pun ditunjukkan dalam laga sepak bola ketika Persebaya berjumpa Persema. Namun maju ke depan, Arema kemudian lahir dan masyarakat Malang mulai mengalihkan dukungannya ke klub berjuluk Singo Edan ini.
Arema kemudian menjadi salah satu tim yang disegani di Liga Indonesia. Bahkan kerap kali merengkuh gelar juara.
Sebaliknya, Persebaya yang berjaya di era Perserikatan dan Galatama mulai tersisih, bahkan harus terdegradasi ke kasta kedua liga Indonesia.
- Tawuran saat Konser Musik di Tambaksari
Di luar sepak bola, ada juga yang menyangkutpautkan rivalitas ini karena adanya konser musik di tahun 1990. Awalnya, Bonek -julukan suporter Persebaya dan Aremania -julukan suporter Arema tumpah ruah dalam satu lokasi menonton konser musi di kawasan Tambaksari, Surabaya.
Saat itu, Arema lebih mendominasi di dengan berada di depan panggung utama. Sementara Bonek yang notabene tuan rumah, berada di barisan belakang. Dalam satu waktu, Aremania kemudian menyanyikan yel-yel Arema berkali-kali.
Bonek yang merasa menjadi tuan rumah mulai geram dan merasa tersisihkan hingga terjadi pemukulan terhadap dari salah seorang Bonek kepada Aremania.
Sontak hal itu berujung chaos dan terjadi tawuran. Kuat dugaan, hal ini juga yang menjadi pemicu perselisihan kedua supporter hingga merembet ke persaingan kedua klub.
- Rivalitas di Galatama Tahun 1992
Ada sumber lain yang menyebutkan bahwa rivalitas Arema vs Persebaya ini berawal dari semifinal Galatama pada tahun 1992 yang mempertemukan Arema Malang vs Semen Padang. Laga tersebut diselenggarakan di Stadion Tambaksari, Surabaya.
Meski bukan Persebaya yang bermain, saat itu justru banyak Bonek yang ikut menonton pertandingan itu. Ketika itu Arema kalah dan para suporternya berulah di Stasiun Gubeng, Surabaya.
Kapolda Jawa Timur saat itu akhirnya mengumpulkan Aremania dalam 6 gerbong kereta api supaya mencegah keributan dengan Bonek.
Imbas dari kejadian itu terjadi pada tahun 1993. Saat itu, Arema sedang ingin bertandang ke Gresik, namun Bonek dengan cepat mencegat dan menyerang rombongan Aremania saat itu. Insiden-insiden seperti ini terus berulang beberapa tahun kemudian.
- Insiden Penyerangan Bus dan Nurkiman
Laga pada 26 Desember 1995 tampaknya tak akan dilupakan oleh mantan pemain Persebaya Surabaya, Nurkiman. Insiden ini sekaligus menambah pemicu perselisihan Bonek dan Aremania yang mendarah daging.
Saat itu, Persebaya bertandang ke markas Persema Malang dalam lanjutan Liga Indonesia musim 1995/1996 dan laga berakhir sama kuat, 1-1.
Setelah laga, ketika pemain Bajul Ijo ingin kembali ke Surabaya menggunakan bus, tiba-tiba sekelompok Ngalamania (sebutan fans Persema Malang) menghadang bus mereka.
Ngalamania melemparkan batu ke arah bus hingga kaca-kaca bus pecah dan pecahannya mengenai mata kiri pemain Persebaya, M. Nurkiman.
Akibat insiden tersebut, mata kiri Nurkiman mengalami cacat permanen hingga saat ini. Nurkiman pun otomatis tidak bisa melanjutkan kompetisi musim tersebut karena harus melakukan berbagai perawatan.
Insiden ini pun dikecam oleh Bonek dan menganggap tindakan suporter tuan rumah itu sangat keterlaluan.
Itulah beberapa kejadian masa lalu yang menyebabkan rivalitas Persebaya dengan Arema, serta Bonek dengan Aremania terjadi.
Namun seiring perkembangan zaman atau era saat ini, kedua kubu (terutama suporter) mulai menyadari jika perselisihan yang telah mengakar sejak dulu ini harus segera terhenti dan Bonek maupun Aremania wajib berdamai.
Tapi di tengah mayoritas Bonek dan Arema yang menginginkan perdamaian antar suporter itu, tetap saja ada oknum-oknum yang mencederai proses pemutusan rivalitas tersebut. (*)
Editor : I Made Mertawan