BALIEXPRESS.ID - Skuad Timnas Indonesia saat ini bisa dibilang mewah. Bahkan menjadi skuad paling mahal khususnya di wilayah Asia Tenggara.
Terbaru, masuknya nama Kevin Diks membuat nilai pasar keseluruhan skuad Garuda melonjak drastis.
Diks sendiri bernilai Rp 78,22 miliar sesuai dengan situs Transfermarkt.
Namun ada fakta bahwa 4 pemain diaspora Timnas Indonesia mengalami penurunan. Semuanya berkarier di Eredivisie atau Liga Belanda.
Wajar saja karena Eredivisie kini menjadi sorotan publik Indonesia karena banyaknya pemain diaspora yang berkarir di sana.
Belum lagi nama-nama potensial yang bakal masuk dalam radar naturalisasi PSSI.
Dilansir dari situs Transfermarkt.com, ada 4 nama pemain Timnas Indonesia yang mengalami penurunan.
Laman basis data pemain sepakbola seluruh dunia itu baru saja merilis nilai pasar pemain per 17 Desember 2024.
Berikut 4 daftar pemain Timnas Indonesia yang mengalami penurunan market value.
Baca Juga: Ingin Kampanyekan Masalah Lingkungan dan Perangi Narkoba, Sudarmin Jalan Kaki Keliling Indonesia
- Ole Romeney
Meskipun belum resmi menjadi WNI, nama Ole Romeney tetap menjadi sorotan.
Pemain yang bergabung bersama FC Utrecht ini mengalami penurunan market value dari Rp 26 miliar menjadi Rp 22,6 miliar.
- Eliano Reijnders
Adik kandung dari gelandang AC Milan, Tijjani Reijnders ini mengalami penurunan market value meskipun tak begitu drastis.
Eliano sebelumnya memiliki market value senilai Rp 11 miliar dan kini turun menjadi Rp 9 miliar.
- Mees Hilgers
Mees Hilgers merupakan pemain termahal di Skuad Garuda. Sebelum rilis terbaru, Mees memiliki nilai pasar fantastis bagi pemain Asia Tenggara yakni senilai Rp 173 miliar. Namun kini harganya turun menjadi Rp 156,43 miliar.
- Thom Haye
Market value seorang Thom Haye bisa dibilang terjun bebas. Sebelumnya ia memiliki nilai pasar senilai Rp 52 miliar.
Setelah pergi dari SC Heerenveen, pemain berjuluk The Profesor ini pindah ke Almere City.
Namun di klub barunya, Haye tak bisa berbuat banyak dan sering menjadi pemain pengganti, ditambah klubnya saat ini berada di zona degradasi.
Hal itu juga mempengaruhi market valuenya yang kini turun drastis ke angka Rp 26 miliar. (*)
Editor : Nyoman Suarna