BALIEXPRESS.ID - Tidak bisa dipungkiri, dunia sepak bola takkan mengenal sosok Patrick Kluivert seperti sekarang tanpa peran besar Ajax Amsterdam.
Begitu pula, tanpa Kluivert, Ajax tidak akan pernah merasakan manisnya gelar Liga Champions 1994/1995.
Hubungan mereka terjalin erat pada malam bersejarah 24 Mei 1995, di Stadion Ernst Happel, Wina, yang menjadi saksi lahirnya legenda.
Sebagai pemain pengganti di menit ke-70, Kluivert masuk menggantikan Jari Litmanen dan hanya butuh 15 menit untuk mencetak gol penentu kemenangan Ajax atas AC Milan di final Liga Champions.
Gol tersebut sederhana, namun sangat berarti. Itu adalah gol pertama dan satu-satunya dalam pertandingan, yang mengantarkan Ajax meraih gelar juara.
Yang lebih mengesankan, Kluivert mencetak gol itu di usia 18 tahun 327 hari, menjadikannya pemain termuda yang pernah mencetak gol di final Liga Champions—rekor yang hingga kini belum terpecahkan.
Tepat 30 tahun setelah momen tersebut, Kluivert kini kembali ke Indonesia, namun bukan lagi sebagai pemain, melainkan sebagai pelatih baru Timnas Indonesia.
Pada Minggu, 12 Januari 2025, PSSI secara resmi memperkenalkan Kluivert sebagai pelatih dengan kontrak hingga 2027.
Kehadirannya disambut beragam reaksi, mulai dari kontroversi pemecatan Shin Tae-yong hingga euforia para penggemar yang menantikan kiprah Kluivert di Timnas Garuda.
Kisah Singkat Patrick Kluivert:
Patrick Stephan Kluivert lahir di Amsterdam pada 1 Juli 1976.
Dari ayah yang berdarah Suriname dan ibu asal Curacao, Kluivert tumbuh menjadi seorang penyerang yang luar biasa.
Sejak usia tujuh tahun, ia bergabung dengan akademi Ajax dan mulai meniti karier di sana.
Kluivert mengidolakan Marco van Basten, yang menjadi sumber inspirasinya dalam bermain sepak bola.
Tak lama kemudian, ia pun menembus tim senior Ajax di bawah asuhan Louis van Gaal, dengan debutnya terjadi pada Agustus 1994 melawan Feyenoord.
Namun, yang paling dikenang adalah golnya yang menentukan kemenangan Ajax di final Liga Champions 1995.
Setelah pertandingan itu, Kluivert menjadi sorotan dunia dan mulai menarik minat klub-klub besar Eropa, termasuk AC Milan.
Menghadapi Rintangan Besar:
Namun, perjalanan Kluivert tidak selalu mulus. Hanya empat bulan setelah kemenangan gemilang di final, ia terlibat dalam kecelakaan fatal yang merenggut nyawa seorang pengemudi bernama Marten Putman.
Meski tak terbukti terlibat alkohol atau kejahatan sengaja, Kluivert dihukum karena mengemudi dengan kecepatan tinggi, dan insiden itu meninggalkan bekas mendalam pada psikologinya.
Selain itu, ia juga harus menghadapi teror rasisme dari publik sepak bola Italia ketika bermain di AC Milan.
Meski berbagai tantangan datang, Kluivert tetap melanjutkan kariernya dan berhasil meraih sukses di Barcelona, tempat ia mencatatkan 122 gol dalam 257 pertandingan dan meraih gelar La Liga.
Selain itu, ia juga memperkuat Newcastle United, Valencia, PSV Eindhoven, dan Lille sebelum akhirnya memutuskan gantung sepatu.
Karier Pelatih yang Berliku:
Sebagai pelatih, Kluivert memulai perjalanan di Brisbane Roar dan Twente U-21, sebelum akhirnya menjadi pelatih kepala Timnas Curacao.
Pada 2018, ia bergabung sebagai asisten pelatih Timnas Kamerun, tetapi kontraknya berakhir pada 2019.
Kluivert kemudian menjadi direktur akademi Barcelona hingga 2021, dan sempat menangani Adana Demirspor di Turki pada 2023.
Kini, setelah lebih dari setahun vakum, ia kembali ke dunia sepak bola dengan misi besar: membawa Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026.
Perjalanan panjang Patrick Kluivert dari seorang bintang muda yang mencetak gol penentu di final Liga Champions hingga menjadi pelatih Timnas Indonesia penuh lika-liku yang penuh warna.
Kini, semua mata tertuju pada Kluivert, yang membawa harapan besar untuk masa depan sepak bola Indonesia.
Apakah ia mampu mengulang kesuksesannya yang gemilang di lapangan hijau? Hanya waktu yang akan membuktikan. ***
Editor : I Putu Suyatra