4 Momentum Penting Rizky Ridho yang Kini Jadi Bagian Tembok Kokoh Timnas Indonesia: Dari Debutan Persebaya Hingga Trio JJR yang Mengguncang Asia!
I Putu Suyatra• Sabtu, 7 Juni 2025 | 15:22 WIB
Pemain Timnas Indonesia Rizky Ridho Ramadhani saat bertanding melawan Timnas Bahrain pada laga Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan,
BALIEXPRESS.ID – Nama Rizky Ridho kini tak asing lagi di telinga pencinta sepak bola Indonesia. Bek tangguh yang kini memperkuat Persija Jakarta ini telah menjelma menjadi salah satu pilar utama di lini pertahanan Tim Nasional.
Namun, tahukah Anda bagaimana perjalanan luar biasa Ridho dari seorang debutan muda di Persebaya hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari "Trio JJR" yang disegani lawan?
1. Awal Mula Sang Bintang: Debut Impian di Usia 18 Tahun
Kisah inspiratif Rizky Ridho dimulai pada 12 Maret 2020. Kala itu, di usia yang masih sangat belia, 18 tahun, Ridho mendapatkan kepercayaan penuh dari pelatih legendaris Persebaya Surabaya, Aji Santoso.
Ia diberi kesempatan emas untuk melakoni debut di kasta tertinggi sepak bola nasional, tampil sebagai starter saat Persebaya menjamu Persipura Jayapura di Stadion Gelora Bung Tomo.
Aji Santoso bahkan secara terang-terangan menyebut nama Ridho dalam konferensi pers sehari sebelum laga, menandakan betapa besar kepercayaan yang diberikan kepadanya.
"Kami sudah ada kerangka tim untuk menjadi starting line up, siapa-siapa saja, termasuk salah satunya yang saya ajak konferensi pers hari ini si Rizky Ridho, akan main mulai dari menit awal," terang Aji Santoso kala itu, memproyeksikan Ridho sebagai tembok baru pertahanan Green Force.
2. Mental Baja dan Kematangan di Atas Usia
Menyambut debutnya, Ridho tak gentar. Ia bertekad tampil sempurna, tanpa kesalahan, dan disiplin mengikuti instruksi pelatih. Mental baja ini bukan tanpa sebab.
Meski berstatus debutan di Liga 1, Ridho telah mencatat pengalaman berharga bersama Persebaya Surabaya senior di ajang Piala Gubernur Jatim 2020.
Bahkan, ia sukses mematikan pergerakan striker sekelas Marko Simic saat melawan Persija Jakarta di final.
Penampilannya yang solid saat menyingkirkan Arema FC di babak semifinal juga menunjukkan kematangan di atas usianya, menandai dirinya sebagai prospek masa depan yang cerah.
Pengalaman meraih gelar juara bersama Persebaya Surabaya U-20 di Elite Pro Academy U-20 2019 juga turut membentuk karakternya sebagai bek tangguh dan cerdas membaca permainan.
Sebelum menghadapi Persipura, Ridho tak ragu belajar dari rekaman video para striker lawan, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka.
"Saya akan lihat kemampuan striker-nya seperti apa lewat video-video, juga melihat kelebihan-kelebihan dan kelemahan mereka," ujar Rizky.
"Insya Allah nanti saya bisa memahami cara main mereka seperti apa."
3. Dari Persebaya ke Timnas: Transformasi di Bawah Shin Tae-yong
Total 43 laga resmi, 3 gol, dan lebih dari 3.000 menit bermain bersama Persebaya Surabaya di era Liga 1 Indonesia menjadi bekal berharga bagi Rizky Ridho.
Statistik mentereng ini akhirnya membuka gerbang menuju Tim Nasional Indonesia.
Transformasi Ridho menjadi pemain utama Timnas dimulai di era pelatih Shin Tae-yong.
Konsistensi mereka menjaga pertahanan membuat kepercayaan publik terhadap sektor belakang meningkat drastis.
4. Ujian dan Kemenangan di Era Kluivert: JJR Tetap Tak Tergantikan
Masa transisi kepelatihan dengan masuknya Patrick Kluivert sempat menguji stabilitas lini belakang.
Dalam debutnya, Kluivert mencoba kombinasi baru dengan Calvin Verdonk, Jay Idzes, dan Mees Hilgers.
Namun, eksperimen itu berujung petaka ketika Indonesia dihajar Australia 1-5. Hasil tersebut menjadi pelajaran penting: stabilitas tidak bisa digantikan sembarang kombinasi.
Menanggapi kekalahan itu, Kluivert tak ragu kembali mempercayakan Trio JJR saat menghadapi Bahrain dan Tiongkok.
Kedua laga berakhir dengan kemenangan tipis 1-0, plus pertahanan solid yang kembali muncul seperti sedia kala.
Performa stabil dan kompak menjadi alasan utama JJR tetap diandalkan hingga kini. Rizky Ridho tak sekadar pelengkap, melainkan pilar sejati dalam struktur pertahanan Merah Putih.
Warisan Shin Tae-yong berupa struktur dan identitas permainan kini dirawat oleh Kluivert melalui kepercayaan pada trio bek ini.
Dari pemuda Surabaya hingga penjaga gerbang harapan Indonesia di panggung dunia, Rizky Ridho adalah bukti nyata bahwa kerja keras dan kesabaran bisa membawa seseorang ke puncak.
Ia adalah fondasi kuat bagi masa depan sepak bola Indonesia di lini belakang. ***