SINGARAJA, BALI EXPRESS – Pagi-pagi sekali beberapa wisatawan asing datang ke Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali. Mereka dipandu guide Nyoman Nadiana.
Nadiana adalah salah satu pemuda Desa Les yang juga gemar berwisata. Sembari berwisata ia juga mempelajari strategi promosi wisata.
Tak tanggung-tanggung, Nadiana belajar menelisik hal tersebut hingga ke Jawa dan Lombok. Don Rare-sapaan akrabnya-memang memiliki latar belakang sebagai pemandu wisata.
Selama menjadi pemandu wisata Nadiana kerap mengantarkan turis ke tempat-tempat indah di sudut Pulau Bali. Seperti halnya, sunrise di Kintamani, mendaki di Gunung Batur dan Gunung Agung, Kecak di Ubud, Pantai cantik di Kuta, pusat oleh-oleh di Bali Selatan, lumba-lumba di Lovina hingga menginap di hotel berbintang.
Perjalanan itu pun menjadi rute yang biasa dilakukan kebanyakan pemandu wisata. Kini ia tinggal di Desa Les. Hal serupa ia lakukan di kawasan Buleleng Timur.
Wisatawan yang datang ia cari sendiri dan pandu sendiri. Perjalanannya lantas ia sebut Tour de Les. Wisata yang ditawarkan Don Rare berbanding terbalik.
Ia membawa para turisitu ke tempat-tempat yang tidak biasa dan tidak terkenal. Turis-turis itu hanya diajak keliling desa, namun pengalaman yang ditawarkan memiliki kesan tersendiri.
“Saya ingin memperkenalkan Desa Les. Di sini juga tidak kalah menarik. Tidak mahal dan tidak juga murahan. Tapi pengalaman yang didapat bisa dikatakan mahal,” ungkap Don Rare, Jumat 4 Agustus 2023.
Sebelum langit terang pada pagi hari, Don Rare bergegas mengajak turis-turis itu menuju bukit Yangudi. Mereka berjalan kaki mendaki bukit menuju puncak.
Sekitar 1 jam perjalanan akan tiba di puncak. Dari atas bukit Yangudi pemandangan laut terlihat jelas.
Begitu pula matahari terbit yang indah bisa dinikmati dengan mata telanjang dari atas bukit. “Naik Gunung Agung atau Gunung Batur untuk lihat sunrise sudah biasa. Cobalah naik ke bukit Yangudi,” sarannya.
Selain menapaki bukit, turis yang datang juga akan diajak berjalan melewati kebun-kebun warga, masuk ke rumah-rumah warga untuk melihat aktivitas yang dilakukan. Terutama saat warga Tengah membuat produk lokal. Seperti menganyam bambu, membuat kue tradisional, menyuling arak sampai membuat garam.
“Cara ini juga dapat membantu warga mempromosikan produk mereka,” imbuhnya.
Banyak usaha yang dibangun secara besar. Namun kemudian perlahan mulai surut dan bangkrut.
Don Rare justru sebaliknya. Ia membangun pariwisata kecil-kecilan dahulu yang nantinya bisa saja menjadi besar.
“Mulai dari desa. Memperkenalkan hal-hal kecil, terutama prosesnya. Misalnya di Les ada garam. Selain menjual produknya, proses pembuatannya juga menjadi paket wisata. Turis dapat pengalaman, warga dapat imbalan, produk bisa dikenal. Seperti itu misalnya,” tutupnya. (*)
Editor : I Made Mertawan