BANGLI, BALI EXPRESS- Suka makan laklak? Tempat satu ini bisa menjadi pilihan untuk menikmati jajanan khas Bali tersebut.
Nama warung laklak ini adalah Laklak Dedari yang buka setiap hari sekitar pukul 09.00-18.00 Wita.
Warung Laklak Dedari berada di Banjar Jelekungkang, Desa Tamanbali, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali.
Sekali mencoba, bisa ketagihan. Pemilik warung Laklak Dedari I Wayan Sujana mengatakan sudah banyak pelanggannya yang tidak cukup datang sekali, dua kali, tapi berkali-kali.
Hal itu tidak terlepas dari komitmen Sujana menjaga cita rasa agar tidak membuat pelanggan kecewa. Sejak berdiri sekitar tahun 2017, laklak dibuat tanpa pengawet.
"Bahan biasa tepung beras, gula Bali pilihan, saya campur dengan daun pandan dan daun kayu sugih (kayu suji) untuk pewarnaan," kata Sujana ditemui Bali Express (Jawa Pos Group), Senin, 19 Februari 2024.
Ia sengaja tidak menggunakan pewarna yang dijual di pasaran karena diyakini akan berpengaruh terhadap rasa.
Selain itu warnanya akan terlalu cerah dan tidak menutup kemungkinan kurang diminati pembeli.
“Kalau beli, warna terlalu cerah dan rasa beda, istilah Bali itu tidak nyangluh,” ungkap Sujana.
Proses pembuatannya juga masih tradisional, yakni menggunakan tungku dengan kayu bakar. Sejauh ini, Sujana biasa menggunakan kayu cengkih.
Kayu ini menjadi pilihan karena menghasilkan api yang stabil, sehingga matangnya pas. Bagian bawah laklak terasa krispi atau istilah Bali disebut laklak puun.
“Saya pernah pakai kompor, beda sekali. Hasilnya jauh. Matang banyak lengket,” kata pria berusia 53 tahun itu.
Disinggung soal harga, Sujana mengingatkan untuk tidak khawatir. Satu porsi cukup Rp5.000 isi lima.
Cukup merogoh isi kantong Rp 8.000 sudah bisa menikmati laklak ditemani kopi Bali.
"Dulu itu satu porsi isi 5 Rp3.000, plus kopi jadi Rp 5.000. Sekarang bahan-bahan sudah naik, harga saya naikkan," jelasnya.
Dengan harga yang ditawarkan itu, pengunjung sudah bisa menikmati laklak plus kopi dan bonus pemandangan suasana perdesaan.
Itu karena lokasi Laklak Dedari berada di pinggir jalan raya Banjar Jelekungkang. Warung itu juga menggunakan desain tradisional. Di pinggir jalan raya dibuatkan bale bengong sederhana namun penuh makna.
"Tempat menyesuaikan. Atap alang-alang, beberapa gunakan genteng," sebutnya.
Sejauh ini pelanggan Laklak Dedari dari berbagai daerah di Bali. Bahkan hampir setiap hari ada pembeli wisatawan asing, mengingat terdapat vila di banjar itu.
Selain itu posisi warung berada di jalur Air Terjun Dedari yang sering dikunjungi wisatawan asing.
"Ada juga wisatawan yang memang datang ke sini," tegasnya.
Harga laklak untuk wisatawan maupun warga lokal Bali, sama.
Di sana juga dijual nasi campur samsam guling dengan harga terjangkau. (*)
Editor : I Made Mertawan