Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Warung Pak Minggu : Sajikan Makanan Tradisional Bali, Diiringi Musik Klentangan

I Dewa Gede Rastana • Jumat, 1 Maret 2024 | 21:54 WIB
KULINER : Satu porsi makanan di Warung Pak Minggu.
KULINER : Satu porsi makanan di Warung Pak Minggu.

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS - keberadaan Warung Pak Minggu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari jalan gastronomi di Semarapura Kelod Kangin, Kabupaten Klungkung, Bali.

 

Warung makan sederhana yang tepatnya berlokasi di Banjar Pande Kota, Jalan Darmawangsa, Semarapura Kelod Kangin, atau tepatnya di timur Pasar Semarapura, ini memang tidak seterkenal warung makan lainnya di Klungkung. Namun warung makan ini punya tempat tersendiri bagi pecinta lawar dan makanan khas Bali.

 

 

Sesuai dengan namanya, warung tersebut adalah milik I Made Minggu, 70, asal Banjar Linggasna, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, karangasem , tinggal di Jelantik, Banjar Koribatu, Desa Tojan. Pak Minggu pun jadi nama panggilan sekaligus nama warung makannya.

 

Nengah Sumendri, anak kedua Pak Minggu menuturkam bahwa usaha ini dimulai oleh ayahnya yang seorang pedagang lawar, yang berkeliling dengan rombongnya di sekitar pasar. "Sejak tahun 1990 bapal saya sudah jualan lawar pakai rombong, " ujarnya.

 

 

Sebelumnya, Pak Minggu adalah seorang tukang kayu. Namun karena melihat kemajuan yang diinginkan, ia pun beralih profesi menjadi penjual lawar.

Sementara itu, istri Pak Minggu menjajakan nasi be celeng, tum, serta lawar, dan sate dalam bungkusan-bungkusan kecil. "Tapi setelah ibu saya meninggal, saya dan bapak yang meneruskan berjualan sampai sekarang," lanjutnya.

 

Lebih lanjut, sebelum pandemi COVID-19 melanda, ia mampu membuat hingga 15 kg sate dan biasanya ludes terjual antara pukul 09.00 WITA hingga 13.00 WITA. "Tapi setelah pandemi, produksi kami terpaksa turun menjadi 5 kg saja," lanjutnya.

 

Adapun menu andalan adalah sate puinde, sebuah hidangan unik yang terbuat dari daging giling yang diisi dengan daun kelor, yang biasa digunakan dalam upacara-upacara.

 

 


"Harga menu kami dimulai dari 40 ribu untuk empat tusuk sate lengkap dengan lawar, hingga 50 ribu untuk enam tusuk sate dan lawar. Kami juga menyediakan paket prasmanan seharga 25 ribu per porsi," paparnya.

 

Sedangkan untuk makan ditempat, ia menawarkan paket spesial seharga Rp25 ribu, yang mencakup nasi, lawar, sate, dan komoh yang rasanya menggugah selera. Komoh buatan warung ini pun cukup unik yakni lengkap dengan biji pare.

 

"Bumbu-bumbu yang kami gunakan memiliki ciri khas Bali yang khas," lanjutnya.

 

 

Uniknya lagi sensasi menikmati makanan tradisional khas Bali diiringi alunan musik Angklung (Klentangan) tidak akan ditemukan di warung makan lainnya. Hal ini menciptakan suasana klasik yang membedakan warung Pak Minggu dengan warung lainnya.

 

Pada dinding warung makan juga terdapat banyak gambar-gambar wayang sehingga menambah memiliki nuansa yang beda dari yang lain.

 

 

"Kami juga menerima pesanan prasmanan untuk berbagai acara seperti orang nelu bulanin atau pewiwahan, dan sebagainya, " sambungnya.

 

Setiap harinya Sumendri bersama Pak Minggu dan sanak keluarganya yang lain mulai mempersiapkan masakan pukul 05.00 WITA.

 

"Setiap hari ami memulai persiapan sejak jam 5 mulai dari membuat bumbu," sebutnya.

 

 

Dengan penghasilan rata-rata Rp200 ribu per hari, kini Warung Pak Minggu telah memiliki tiga cabang di sekitar Klungkung dan Jalan Rama.


Sementara itu, Pak Minggu yang usianya sudah tidak muda lagi namun masih semangat mengolah daging menjadi makanan yang lezat menuturkan jika dirinya diberi nama 'Minggu' karena memang lahir di hari Minggu. 

 

"Dan langsung dipakai untuk nama Warung Pak Minggu, " tandasnya. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#bali #lawar #angklung #kuliner #klungkung #sate #Warung pak minggu #tradisional