BALI EXPRESS – Tegalalang, Gianyar, Bali terkenal dengan alamnya yang indah, serta banyak dikunjungi wisatawan baik dari luar maupun dalam negeri.
Satu rekomendasi tempat wisata yang dapat dikunjungi saat bepergian ke Tegallalang Gianyar, Bali adalah Ulu Petanu Waterfall.
Ulu Petanu Waterfall merupakan air terjun yang cantik seperti berada di dunia lain.
Banyak juga spot-spot di sekitar area air terjun yang dapat dikunjungi.
Air terjun cantik ini berada di Banjar Bayad, Kedisan, Tegallalang.
Biaya masuk ke Air terjun Ulu Petanu ini cuma Rp20.000 per orang.
Dari parkiran untuk mencapai ke air terjun melewati sekitar 90 anak tangga dan jalan setapak.
Air terjun Ulu Petanu ini memiliki beberapa spot unik nan cantik.
Spot pertama adalah sebuah pelinggih tempat pemujaan. Spot kedua berupa pancuran 3 rasa. Selanjutnya ada spot kolam ikan koi yang sangat cantik.
Spot utamanya adalah air terjun Ulu Petanu yang cantik dan menyejukkan.
Yang tak kalah menarik dari air terjun tersebut adalah terdapat batu tengkorak dan batu bolong yang akan menjadi pengalaman tersendiri bagi pengunjung.
Di sekitar area air terjun juga terdapat spot air terjun lainnya bernama pangkung patas waterfall yang memiliki air terjun sedikit lebih kecil.
Untuk mencapai beberapa spot ini, disediakan petunjuk arah. Jadi pengunjung dapat mengikuti petunjuk arah tersebut.
Pengunjung yang ingin main air, sudah disediakan ruang ganti pakaian.
Selain menawarkan kecantikan, air terjun Ulu Petanu juga menjadi spot foto paling istimewa yang diincar oleh pengunjung.
Spot tersebut berupa jalan setapak yang berada di tengah-tengah air sungai yang mengalir serta pepohonan hijau di sekelilingnya.
Terdapat jembatan di pinggir air terjun yang dijadikan spot favorite dan paling istimewa untuk berfoto-foto.
Dengan keindahannya serta suasana yang nyaman dan sejuk, air terjun Ulu Petanu ini menjadi pilihan tepat untuk melengkapi kunjungan ke sawah terasering di Tegallalang.
Spot-spot unik yang berada di sekitar area air terjun juga menjadi daya tarik tersendiri.
Kadek Dwi Ayu Maharini*
- Penulis adalah mahasiswa magang Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.