BALIEXPRESS.ID - Semakin berkembangnya zaman, akses informasi dari dalam dan luar negeri semakin mudah didapatkan.
Masyarakat pun kini lebih mengenal beragam hidangan internasional seperti burger, pasta, sushi, dan ramen, serta hidangan Korea Selatan yang populer lewat drakor.
Namun, bagaimana dengan masakan tradisional Indonesia. Apakah bisa sepopuler hidangan-hidangan dari luar negeri?
Ayu Gayatri, founder Pengalaman Rasa Gastronomy Bali, mengatakan, hidangan Indonesia dikenal kaya akan rempah-rempah yang memiliki karakter rasa unik.
Meskipun sulit diterima lidah asing, setiap daerah di Nusantara memiliki resep tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Rempah-rempah digunakan tidak hanya sebagai bumbu, tetapi juga untuk memberikan sensasi khas yang membedakan hidangan dari daerah satu dengan yang lainnya.
Salah satu pengalaman menarik dalam eksplorasi kuliner Indonesia adalah proses belajar membuat "Basa Genep" atau "Basa Gede," campuran rempah esensial Bali.
“Ternyata, ada banyak versi resep dan takaran rempah dari berbagai sumber, termasuk dari almarhum ibu, ibu mertua, hingga buku masakan Bali. Akhirnya, resep baku Basa Genep dibuat untuk menjaga standar rasa di Pengalaman Rasa Gastronomy,” ujar Ayu, Minggu (25/8).
Beberapa resep daerah lain, seperti Mi Gomak dari Sumatera Utara yang menggunakan rempah khas Toba, Andaliman, juga diadaptasi.
Bahan-bahan yang sulit ditemukan di Bali sering kali harus dibawa langsung dari daerah asalnya.
Hidangan-hidangan ini kemudian diadopsi menjadi bagian dari "Surprise Menu" dalam 10 sequence dining experience yang disajikan sebagai "oleh-oleh" dari perjalanan kuliner.
Dalam upaya mempopulerkan hidangan Indonesia, beberapa hidangan telah dikenal di dunia.
Rendang dari Minangkabau pernah dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia versi CNN.
Rawon dari Jawa Timur dan Soto Betawi dari Jakarta menempati posisi pertama dan kedua dalam daftar sup terenak di dunia versi TasteAtlas tahun 2024.
Nasi goreng, hasil asimilasi dengan budaya Tiongkok, dan sate, dengan beragam variasi rempahnya, juga telah dikenal sebagai hidangan lezat di seluruh dunia.
Diplomasi gastronomi memainkan peran penting dalam memperkenalkan hidangan Indonesia ke kancah internasional.
Baik secara formal melalui delegasi dalam ajang internasional, maupun secara informal dengan memasak untuk teman-teman warga asing.
“Hidangan Indonesia yang kaya rempah semakin dikenal dan digemari,” ungkap Ayu sebagaimana disampaikan dalam sebuah forum pada Singaraja Literary Festival 2024 di Singaraja.
Salah satu kesempatan untuk mempromosikan kuliner Indonesia adalah dalam Ubud Food Festival, sebuah festival kuliner yang dikenal oleh food enthusiast, praktisi kuliner, dan food-writers internasional.
Selain itu, pop-up cooking di beberapa negara dan partisipasi dalam kongres Worldcanic di Lanzarote, Kepulauan Canary, juga menjadi kesempatan Ayu Gayatri untuk mempresentasikan hidangan khas Bali seperti Bebek Betutu dan Sate Lilit kepada dunia.
Dengan semakin banyaknya diplomasi gastronomi, baik formal maupun informal, hidangan Indonesia yang kaya rempah kini mulai mendapat tempat di hati masyarakat dunia.
“Keunikan dan kekayaan cita rasa rempah-rempah Indonesia diharapkan dapat terus mendunia dan menjadi bagian dari peta kuliner internasional,” kata dia.
Editor : Nyoman Suarna