BALIEXPRESS.ID - Desa Wisata Jatiluwih, yang terletak di Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali, segera mengukir prestasi internasional.
Desa yang terkenal dengan keindahan sawah teraseringnya ini akan menerima penghargaan bergengsi dari United Nations World Tourism Organization (UNWTO), sebuah badan PBB yang membidangi pariwisata dunia.
Penghargaan tersebut rencananya akan diumumkan pada November ini, menempatkan Desa Jatiluwih dalam jajaran desa wisata terbaik dunia.
Namun, di balik pencapaian ini, ancaman serius mengintai: alih fungsi lahan yang masif.
Hal ini menjadi perhatian bagi manajemen Desa Wisata Jatiluwih, mengingat kawasan ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD).
Jika tak segera diatasi, ancaman ini bisa memengaruhi status dan kelestarian warisan tersebut.
Penghargaan "Best Tourism Village 2024" Akan Diterima di Kolombia
Manager Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, I Ketut Jhon Purna, menyampaikan kabar baik ini.
Pada Kamis (14/11), ia akan bertolak ke Kolombia untuk menerima penghargaan “Best Tourism Village 2024” dari UNWTO.
“Penghargaan ini adalah pengakuan dunia terhadap desa-desa yang mampu menjaga keasrian lingkungan, melestarikan budaya, dan mempertahankan nilai-nilai tradisi serta alam,” ujarnya.
Tak hanya dari UNWTO, Desa Wisata Jatiluwih juga akan menerima penghargaan sebagai desa wisata berkelanjutan dari Kementerian Pariwisata Indonesia di bulan yang sama.
Dengan dua penghargaan ini, Jatiluwih semakin diakui sebagai teladan dalam pengembangan pariwisata yang berbasis lingkungan dan budaya.
PR Besar: Menjaga Lahan Subak dari Alih Fungsi
Meski penghargaan internasional telah di depan mata, Jhon Purna menyadari bahwa tantangan besar masih ada: menjaga lahan subak dari alih fungsi.
Dalam pertemuan dengan UNESCO, pihak WWF sempat mengingatkan bahwa alih fungsi lahan bisa mengancam status Jatiluwih sebagai Warisan Budaya Dunia.
“Kami harus bekerja keras untuk melindungi kawasan subak ini,” ucapnya.
Sebagai langkah pencegahan, pihaknya kini tengah menyusun konsensus bersama antara krama desa adat, pekaseh subak, petani, dan manajemen DTW.
Tujuannya adalah menjaga keberlanjutan lahan subak seluas 325 hektare yang ada di Jatiluwih.
“Kami juga berharap konsensus ini bisa menjadi dasar kebijakan resmi, seperti Peraturan Bupati atau Perda khusus untuk melindungi kawasan ini,” tambah Jhon.
Efek Penghargaan Internasional: Prediksi Peningkatan Wisata Hingga 15%
Dengan penghargaan dunia ini, Desa Jatiluwih diprediksi akan mengalami peningkatan kunjungan wisatawan hingga 10-15%.
Saat ini, rata-rata kunjungan wisatawan harian berkisar antara 1.000-1.500 orang.
Penghargaan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga menyadarkan masyarakat desa akan pentingnya menjaga warisan budaya dan alam yang dimiliki.
Penghargaan dan tantangan ini menjadi momen penting bagi Desa Jatiluwih untuk mempertahankan kelestarian warisannya.
Dengan perhatian dunia yang semakin besar, mampukah Desa Jatiluwih menjaga statusnya sebagai desa wisata terbaik dan melindungi kelestarian subaknya dari ancaman alih fungsi? ***