SINGARAJA, BALI EXPRESS - Desa Les, yang terletak di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, berhasil meraih gelar Desa Wisata Terbaik di Indonesia pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024.
Penghargaan bergengsi ini diumumkan langsung oleh Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, pada Minggu (17/11) malam di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
Perjalanan panjang Desa Les menuju kemenangan dimulai sejak awal 1990-an, ketika potensi wisatanya mulai digarap. Daya tarik utama desa ini adalah Air Terjun Yeh Mampeh, yang menjadi magnet bagi wisatawan lokal dan mancanegara. Namun, tidak berhenti di situ, Desa Les terus berinovasi dengan mengembangkan berbagai potensi lainnya.
Selain air terjun, Desa Les menawarkan pengalaman unik seperti, pembuatan garam dan gula juruh secara tradisional, produksi arak Bali yang dilakukan dengan cara tradisional. Ada juga rural village tour, yang mengajak wisatawan menjelajahi desa, mengenal adat istiadat, dan budaya lokal. Selain itu, Les punya wisata bahari, dengan aktivitas snorkeling dan diving di perairan indah Desa Les.
Untuk wisata kuliner yang otentik dan khas, Desa Les juga memiliki, Dapur Bali Mula, restoran lokal yang menyajikan hidangan otentik berbahan dasar hasil bumi desa setempat.
Meski baru memenangkan gelar pada 2024, Desa Les sudah mulai berpartisipasi dalam ADWI sejak 2021. Awalnya, desa ini hanya masuk dalam 1.000 besar, kemudian meningkat ke 500 besar pada 2022. Namun, kegagalan pada 2023 menjadi pemicu untuk berbenah lebih serius.
Pada tahun 2024, Desa Les berhasil masuk dalam 50 besar nasional, bersaing dengan desa-desa wisata terbaik lainnya. Berkat kolaborasi antara pemerintah desa, stakeholder pariwisata, dan masyarakat adat, Desa Les akhirnya membawa pulang gelar juara nasional.
Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Gede Dody Sukma Askara, Desa Les meraih poin tertinggi pada aspek daya tarik wisata, amenitas, digitalisasi, resiliensi, serta kelembagaan dan SDM.
“Prestasi ini merupakan bukti nyata bahwa kerja keras dan kolaborasi antara berbagai pihak mampu membawa Desa Les ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Les, Nyoman Nadiana mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas penghargaan ini. Ia berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi desa wisata lain di Buleleng untuk mengikuti jejak yang sama.
Dengan pencapaian ini, Desa Les tidak hanya menjadi kebanggaan Bali, tetapi juga Indonesia. Langkah selanjutnya adalah membawa nama Desa Les ke panggung internasional melalui proses kurasi UNWTO (United Nations World Tourism Organization).
Prestasi ini sekaligus menegaskan Desa Les sebagai contoh nyata pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan. Desa Les, dari Bali Utara, kini harum di kancah nasional.
“Nanti tanggal 21 Kemenpar akan datang kembali ke Buleleng. Mereka akan membantu Desa Les berupa mesin digital dan bersosialisasi mendorong Desa Les untuk ke ajang UNWTO,” kata Nadiana. ***
Editor : Dian Suryantini