BALIEXPRESS.ID – Kunjungan wisatawan ke DTW Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, meningkat selama liburan Lebaran tahun ini.
Namun, banyak wisatawan diduga sengaja menghindari pos pungut retribusi agar tidak membayar tiket masuk ke DTW Kintamani.
Mereka memilih melewati jalur lain yang sebenarnya dilarang untuk wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangli I Wayan Sugiarta mengatakan fenomena ini bukan hal baru.
Ia memperkirakan setiap hari ada wisatawan yang sengaja menghindari pos pungut retribusi.
Menurutnya, tindakan tersebut menjadi salah satu penyebab kebocoran retribusi di DTW Kintamani.
“Karena sekarang kunjungan meningkat, jadi mereka yang menghindari pos retribusi terlihat lebih banyak dari hari biasanya,” kata Sugiarta saat dikonfirmasi pada Kamis (3/4/2025).
Untuk menekan kebocoran tersebut, Dinas Pariwisata mengerahkan sekitar 20 pegawai untuk berjaga di jalur-jalur yang dilarang bagi wisatawan selama libur Lebaran.
Wisatawan yang ketahuan melewati jalur tikus akan diarahkan untuk putar balik dan diminta melewati pos pungut retribusi.
Saat ini, Dinas Pariwisata telah menyiapkan lima pos di jalur menuju DTW Kintamani.
“Kalau tidak ditempatkan petugas di jalur tikus, mereka tidak akan bayar retribusi,” ujarnya.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, lanjut Sugiarta, ada beberapa alasan wisatawan tidak melewati pos pungut retribusi.
Sebagian mengaku tidak mengetahui keberadaan pos retribusi, sementara lainnya mengklaim diarahkan oleh Google Maps.
“Ada kendaraan bus, mobil pribadi berplat luar Bali,” ungkap pejabat asal Tabanan ini.
Ke depan, Dinas Pariwisata akan bersinergi dengan beberapa pihak seperti Dinas Perhubungan, Satpol PP, TNI, dan Polri, untuk menekan kebocoran retribusi.
Hal ini menjadi salah satu prioritas utama dinas setempat tahun ini. “Mereka yang berwisata ke Kintamani wajib membayar retribusi,” tegasnya.
Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangli I Gede Budiastawa menambahkan bahwa kunjungan wisatawan ke DTW Kintamani saat libur lebaran bisa tembus 4 ribu orang dalam sehari.
Jumlah ini meningkat dibandingkan hari-hari biasanya. "Januari-Februari rata-rata di bawah 2 ribu orang per hari," sebut Budiastawa. (*)
Editor : I Made Mertawan