Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lalat di Kintamani Bukan Persoalan Baru, Pelaku Wisata Dorong Penanganan Serius

I Made Mertawan • Sabtu, 31 Januari 2026 | 10:11 WIB
DANAU : Suasana Danau Batur di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli
DANAU : Suasana Danau Batur di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli

BALIEXPRESS.ID- Serbuan lalat di kawasan Kintamani, Kabupaten Bangli, bukan persoalan baru.

Sayangnya, hingga kini belum terlihat dampak nyata dari upaya penanggulangan yang dilakukan pemerintah.

Buktinya, lalat masih menjadi persoalan, bahkan memengaruhi citra pariwisata di kawasan tersebut.

Salah satu pelaku pariwisata Kintamani, I Ketut Putranata, menegaskan bahwa persoalan lalat membutuhkan keseriusan dan penanganan yang berkelanjutan dari pemerintah.

Menurutnya, dampak serbuan lalat tidak hanya dirasakan sektor pariwisata Kintamani, tetapi juga berpengaruh terhadap pariwisata Bali secara umum.

Oleh karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah kabupaten, Pemprov Bali, hingga pemerintah pusat.

Putranata pun menyoroti kontribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Bangli.

Berdasarkan data tahun 2025, realisasi retribusi dari lima daya tarik wisata yang dikelola Pemkab Bangli mencapai Rp42 miliar.

Dari jumlah tersebut, sebesar Rp15,12 miliar berasal dari kawasan Kintamani, yakni DTW Kintamani, Pura Penulisan, dan Desa Terunyan. Angka itu belum termasuk kontribusi dari pajak hotel dan restoran.

“Pariwisata sudah terbukti memberikan kontribusi besar kepada pemerintah, sekarang kontribusi ini kami harapkan ada balikannya,” ujar Putranata saat dikonfirmasi, Jumat (30/1/2026).

Pemilik Lakeview Hotel dan Restoran ini menjelaskan, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan lalat berkembang biak di Kintamani.

Pertama, persoalan pengelolaan sampah. Kedua, penggunaan limbah kotoran ayam mentah sebagai pupuk oleh petani.

Untuk pengelolaan sampah, mantan ketua PHRI Bangli ini mengapresiasi langkah Dinas Lingkungan Hidup yang terus mendorong pemilahan sampah dari sumbernya.

Upaya tersebut dinilai mampu menekan berkembangnya habitat lalat. 

Sementara terkait penggunaan pupuk mentah, ia menilai masih diperlukan langkah tegas dan berkelanjutan dari pemerintah.

Namun demikian, kebijakan yang diambil harus tetap adil dan tidak merugikan petani atau hanya menguntungkan pariwisata.

Menurutnya, sektor pertanian dan pariwisata memiliki hubungan saling ketergantungan. 

“Jangan sampai seolah-olah melakukan pressure terhadap pertanian. Kami tidak mau begitu. Pertanian ini harus semakin hidup. Kami menyerap hasil pertanian ini. Pariwisata hidup, demand petani juga akan meningkat,” tegasnya

Putranata juga menyinggung langkah konkret Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangli yang menggelar focus group discussion (FGD) pada Kamis lalu.

Namun ia mengingatkan agar pertemuan tersebut tidak berhenti sebatas diskusi , melainkan diikuti dengan langkah nyata dan terukur di lapangan. (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
#Kintamani #bangli #lalat