Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kunjungan Wisman ke Bangli Masih Aman, Pelaku Pariwisata Tetap Cemas Imbas Perang di Timur Tengah

I Made Mertawan • Jumat, 6 Maret 2026 | 08:01 WIB

 

PINGGAN: Suasana pagi hari di Pinggan Glamping Hill, Desa Pinggan, Kintamani, Bali.
PINGGAN: Suasana pagi hari di Pinggan Glamping Hill, Desa Pinggan, Kintamani, Bali.

BALIEXPRESS.ID-  Konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat belum memengaruhi kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bangli.

Sejumlah pelaku pariwisata menyebutkan, hingga saat ini pergerakan wisatawan masih relatif stabil, bahkan terjadi kenaikan wisatawan mancanegara dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

General Manajer Desa Wisata Penglipuran, Wayan Sumiarsa, mengakui bahwa secara umum tren kunjungan saat ini memang mengalami penurunan.

Ia menegaskan hal itu bukan dipicu konflik Timur Tengah, melainkan faktor musiman bulan puasa umat muslim. “Dari tahun ke tahun memang turun setiap bulan puasa," ujarnya.

Menurut Sumiarsa, jika dibandingkan periode bulan puasa tahun lalu, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Penglipuran justru menunjukkan kenaikan signifikan.

Sumiarsa menyebut kenaikan 18,1 persen per hari dibanding periode bulan puasa tahun lalu.

Saat ini rata-rata kunjungan ke Penglipuran mencapai sekitar 2.000 orang per hari.

Pasar domestik masih menjadi tulang punggung dengan komposisi 85 persen, sedangkan wisatawan mancanegara sekitar 15 persen.

Dari 15 persen turis asing itu, sangat kecil yang dari Timur Tengah. "Paling banyak dari Eropa dan Tiongkok,” katanya.

Lanjut dia, selama akses penerbangan ke Bali tidak terganggu secara signifikan, kunjungan ke Penglipuran masih relatif aman.

Ia menilai dampak baru akan terasa apabila wisatawan harus melalui negara-negara yang terlibat konflik untuk transit.

"Kecuali harus transit di negara berkonflik itu akan menyebabkan turunnya kunjungan ke Penglipuran,” tegasnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan pelaku pariwisata di Kintamani, Ketut Putranata.

Meski saat ini belum ada penurunan, ia mengakui potensi gangguan jalur penerbangan menjadi ancaman nyata, terutama wisatawan asing yang harus transit penerbangan di negara berkonflik.

“Pengaruh jalur penerbangan yang jadi bagian dari konflik, ini pasti akan berpengaruh," jelasnya. Oleh karena itu, ia berharap kunjungan negara jauh dari konflik, misalnya Australia, Asia, bahkan domestik bisa mendongkrak.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangli I Wayan Dirga Yusa juga menyatakan,  perang di Timur Tengah belum pengaruhi kunjungan wisatawan ke Bangli.

Hal itu karena kunjungan pelancong dari negara- negara itu sangat kecil. Namun demikian, kemungkinan imbas konflik itu harus diantisipasi.

"Sesuai dengan perencanaan tahun 2026 ini kami akan lebih banyak promosi pasar domestik, sekolah, perusahaan, pemda-pemda, asosiasi, lembaga swasta yang memang potensial selama ini berkunjung ke bangli," beber Dirga.

" Untuk asing tetap Asia Timur, Australia, India," tambah mantan Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian ini. (*)

Editor : I Made Mertawan
#Kintamani #bangli #perang timur tengah