BALIEXPRESS.ID – Keberadaan Anjungan Penelokan di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, belum sepenuhnya mendapat perhatian dari Pemkab Bangli. Kondisi anjungan di sisi selatan terlihat kurang terawat.
Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), sejumlah ubin di kawasan tersebut telah lepas. Tidak sebatas merusakan pemandangan, tetapi juga membahayakan pengunjung.
Tanaman tampak mengering, bahkan ditumbuhi rumput liar. Kondisi ini menandakan minimnya perawatan. Tempat duduk permanen di sekeliling taman juga kusam.
Baca Juga: Amor ing Acintya! Bus Ambil Haluan Kanan di Susut, Penumpang Vario Tak Tertolong
Hal tersebut menjadi pekerjaan rumah di tengah harapan Pemkab Bangli agar kunjungan wisata ke Kintamani terus meningkat setiap tahun.
Anjungan Penelokan yang menjadi salah satu pavorit wisatawan justru belum mendapat penataan dan pemeliharaan secara optimal.
Anjungan sisi selatan sebenarnya tidak kalah menarik dibandingkan sisi utara. Dari lokasi tersebut, pengunjung dapat menikmati panorama Gunung Batur, Danau Batur, dan Bukit Terunyan yang sama indahnya.
Baca Juga: Bupati Jembrana Sambangi Korban Kebakaran di Pekutatan, Apresiasi Gerak Cepat Damkar
Perbedaannya terletak pada kondisi fasilitas. “Di sisi utara lebih baru, jadi kebanyakan wisatawan di sana, tetapi di selatan juga ramai. Cuma fasilitasnya kurang bagus,” kata seorang pedagang.
Kawasan sisi selatan terakhir kali ditata pada 2019 masa kepemimpinan Bupati Bangli I Made Gianyar.
Baca Juga: Pemerintah Percepat Stimulus Ekonomi demi Capai Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 8 Persen
Sementara itu, penataan anjungan sisi utara dilakukan pada era Bupati Sang Nyoman Sedana Arta.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Bangli I Wayan Dirga Yusa tak menampik kondisi tersebut.
Ia pun mengakui bahwa pemerintah belum pernah melakukan perbaikan setelah penataan 2019 lalu. Perbaikan baru dirancang tahu depan.
"Kami usulkan tahun 2027 jika disetujui TAPD Bangli," ungkap Dirga Yusa, Minggu (12/7/2026).
Pejabat asal Desa Demulih, Kecamatan Susut ini menegaskan bahwa perbaiki difokuskan pada titik-titik kerusakan. (*)
Editor : I Made Mertawan