Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cegah LSD, Disperpa Badung Harapkan Peternak Sapi Tingkatkan Kewaspadaan

P

Suasana penjualan sapi Bali di Pasar Bringkit, Kelurahan Mengwitani, Kecamatan Mengwi.
Suasana penjualan sapi Bali di Pasar Bringkit, Kelurahan Mengwitani, Kecamatan Mengwi.


Advertisement

BALIEXPRESS.ID - Penyakit kulit infeksius atau Lumpy Skin Disease (LSD) telah muncul pada sapi di Daerah Bali.

Pemkab Badung melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) kini mengimbau para peternak untuk meningkatkan kewaspadaan.

Peternak diharapkan melakukan pencegahan dengan cara melakukan vaksinasi, menjaga kebersihan kandang, serta menerapkan biosekuriti secara ketat.

Kadisperpa Badung, Wayan Wijana mengatakan, LSD merupakan penyakit hewan menular strategis yang belum memiliki pengobatan spesifik.

Untuk itu, pencegahan menjadi langkah utama dalam pengendalian penyakit tersebut.

Advertisement

“LSD belum ada obatnya. Karena itu pencegahan harus diperkuat, mulai dari vaksinasi, kebersihan kandang, hingga pengendalian lingkungan. Tapi hingga saat ini di Badung belum ditemukan kasus LSD ini,” ujar Wijana, Selasa (14/1).

Pihaknya menyebutkan, telah menginstruksikan seluruh jajaran teknis di lapangan untuk bersiaga menghadapi potensi penyebaran LSD.

Bahkan akan dilakukan pendampingan kepada peternak melalui penyuluh dan petugas kesehatan hewan.

“Kami sudah memerintahkan seluruh kepala puskeswan dan kepala satuan kerja untuk siaga dan melakukan sosialisasi kepada para peternak agar mewaspadai penyakit LSD ini, dengan rutin melakukan pemeriksaan ternak, menjaga kebersihan kandang, melakukan spraying, serta membatasi orang yang masuk ke kandang,” tegasnya.

Selain itu, Disperpa Badung juga telah menyiapkan tim reaksi cepat pengendalian penyakit ternak.

Bahkan disiapkan mobil khusus dan layanan ambulatory guna mempercepat penanganan di lapangan.

“Kami memiliki tim reaksi cepat yang siap turun ke lokasi jika ada laporan ternak bergejala sakit. Peternak diminta segera melapor apabila menemukan gejala LSD agar bisa segera ditangani,” terangnya.

Lebih lanjut Wijana menambahkan, penularan LSD umumnya terjadi melalui gigitan serangga, seperti lalat, nyamuk, dan kutu yang berkembang di lingkungan kandang kotor dan lembap.

Untuk itu, pengelolaan kandang dan limbah ternak menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

Ia juga mengingatkan peternak agar mengarantina ternak baru serta segera mengisolasi sapi yang menunjukkan gejala seperti demam dan benjolan pada kulit.

“Jangan memindahkan atau memperjualbelikan ternak yang sakit. Langkah ini penting untuk mencegah penularan ke ternak lain,” imbuhnya. (*)

Advertisement

Artikel Terkait

Sapi Madura Berkaki Enam dari Boyolali Juara Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026

Sapi Madura Berkaki Enam dari Boyolali Juara Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026

Sapi ras Madura berkaki enam asal Boyolali, Jawa Tengah, berhasil mencuri perhatian di Kontes Sapi APPSI Piala Presiden 2026. Sapi dengan kondisi fisik tak biasa tersebut sukses meraih juara pertama di kelas sapi unik.

Dua TKP di Buleleng, Komplotan Pencuri Sapi Ternyata Beraksi hingga Karangasem

Dua TKP di Buleleng, Komplotan Pencuri Sapi Ternyata Beraksi hingga Karangasem

Hasil penyelidikan mengungkap bahwa pelaku dalam kedua kasus tersebut merupakan orang yang sama dan juga diduga terlibat dalam aksi serupa di Kabupaten Karangasem.

Pemkab Jembrana Bagikan Hewan Qurban ke 69 Masjid, Anggaran Naik Jadi Rp246 Juta

Pemkab Jembrana Bagikan Hewan Qurban ke 69 Masjid, Anggaran Naik Jadi Rp246 Juta

Pemerintah Kabupaten Jembrana kembali menunjukkan komitmennya dalam menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dengan menyalurkan bantuan hewan qurban kepada masjid-masjid di seluruh wilayah Kabupaten Jembrana.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer