Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dampak Pernikahan Dini Jadi Pembahasan Menarik di SMKN 2 Tegallalang

P
PENYULUHAN : Penyuluhan keagamaan di SMKN 2 Tegallalang. 
PENYULUHAN : Penyuluhan keagamaan di SMKN 2 Tegallalang. 

Advertisement

BALIEXPRESS. ID – Isu pernikahan dini menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian serius dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMKN 2 Tegallalang. Melalui pembinaan yang diberikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, para siswa diajak memahami dampak pernikahan dini dari perspektif ajaran Hindu serta pentingnya mempersiapkan masa depan secara matang.


Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (16/7) di SMKN 2 Tegallalang, Jalan Raya Patas, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang tersebut diikuti sekitar 50 orang, siswa beserta para guru. Pembinaan dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memberikan penguatan karakter dan pemahaman keagamaan kepada peserta didik sejak dini.


Tim penyuluh yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Ida Ayu Kade Ratna Wati, Ni Wayan Ekayanti, I Kadek Cihna Harta, dan I Putu Agus Adegrantika. Sebelum memasuki sesi materi, para peserta diajak mengikuti meditasi bersama di halaman sekolah untuk menciptakan suasana yang tenang dan kondusif.

Advertisement


Dalam penyampaiannya, Penyuluh Agama Hindu Ida Ayu Kade Ratna Wati menjelaskan bahwa pernikahan bukan sekadar ikatan sosial, tetapi merupakan sebuah tahapan kehidupan yang membutuhkan kesiapan fisik, mental, emosional, dan spiritual. Karena itu, pernikahan dini berpotensi menimbulkan berbagai persoalan apabila dilakukan tanpa persiapan yang memadai.


 "Dari sudut pandang Hindu, kehidupan manusia memiliki tahapan yang harus dijalani secara bertanggung jawab. Masa remaja merupakan periode penting untuk belajar, mengembangkan diri, dan mempersiapkan masa depan sebelum memasuki kehidupan berumah tangga, " jelas Dayu Ratna. 

Advertisement


Selain membahas aspek keagamaan, para siswa juga diberikan pemahaman mengenai dampak sosial dan pendidikan akibat pernikahan dini. Mulai dari terhambatnya proses pendidikan, berkurangnya peluang pengembangan diri, hingga meningkatnya risiko masalah ekonomi dan keluarga di masa mendatang.


Materi yang disampaikan mendapat respons positif dari para siswa. Suasana diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan yang diajukan peserta terkait pergaulan remaja, tanggung jawab dalam keluarga, serta cara mengambil keputusan yang bijak sesuai nilai-nilai agama.


Kepala SMKN 2 Tegallalang, I Gede Dangin, menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang diberikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Gianyar. Ia mengucapkan terima kasih karena pembinaan tersebut dapat dilaksanakan secara gratis dan memberikan manfaat besar bagi siswa. 


"Kedepan, kami pihak sekolah berharap kerja sama serupa dapat terus berlanjut melalui kegiatan keagamaan lainnya seperti yoga, pendalaman spiritual, dan praktik pembuatan upakara sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi muda yang berakhlak dan berbudaya, " tegasnya. *

Advertisement
Editor : Putu Agus Adegrantika
Sumber : adegrantika

Artikel Terkait

SMKN 2 Tegallalang, Jadi Miniatur Demokrasi, Kepsek Apresiasi Pemilihan Ketua OSIS

SMKN 2 Tegallalang, Jadi Miniatur Demokrasi, Kepsek Apresiasi Pemilihan Ketua OSIS

BALIEXPRESS.ID - Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMKN 2 Tegallalang menjadi salah satu upaya menanamkan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda sejak bangku sekolah. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Kepala SM

SMKN 2 Tegallalang Tempa SDM Berkualitas, Dari Kebun Sekolah hingga Dunia Kerja

SMKN 2 Tegallalang Tempa SDM Berkualitas, Dari Kebun Sekolah hingga Dunia Kerja

BALIEXPRESS.ID - Lingkungan sekolah yang asri, bersih, aman, dan produktif menjadi salah satu fokus yang terus dikembangkan SMKN 2 Tegallalang. Di bawah kepemimpinan Kepala SMKN 2 Tegallalang, Gede Dangin, berbagai progr

KPU Gianyar Siapkan Siswa SMKN 2 Tegallalang Jadi Pemilih Cerdas 2029

KPU Gianyar Siapkan Siswa SMKN 2 Tegallalang Jadi Pemilih Cerdas 2029

BALIEXPRESS.ID - Pendidikan demokrasi tidak harus menunggu seseorang memasuki usia pemilih. Kesadaran berdemokrasi justru perlu ditanamkan sejak di bangku sekolah. Pemahaman inilah yang mendorong Komisi Pemilihan Umum (

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer