
BALIEXPRESS.ID- Ketahanan pangan tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak beras yang diproduksi.
Ketahanan pangan adalah tentang bagaimana pangan diproduksi oleh petani, peternak dan nelayan, tersedia ketika dibutuhkan, terdistribusi dengan baik, terjangkau oleh masyarakat, bergizi, aman hingga mampu meningkatkan kesejahteraan para produsennya.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Bali periode 2026–2031, Made Muliawan Arya alias De Gadjah, saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) IV dan Dirosah Wustho II PW GP Ansor Provinsi Bali di MIN 1 Karangasem, Sabtu (19/9/2026).
Baca Juga: Gen Z Jangan Cuma Menonton, De Gadjah Ajak Ubah HP Jadi Mesin Cuan
Menurut De Gadjah, Indonesia saat ini berada pada momentum penting dalam membangun kemandirian pangan.
Berbagai kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan hasil, terutama dalam peningkatan produksi beras, penguatan cadangan pangan, perbaikan tata kelola pupuk serta program pemenuhan gizi masyarakat.
Data pemerintah menunjukkan produksi beras Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan 2024.
Baca Juga: Nusron Wahid Mundur dari Kepengurusan Gokar sejak 6 Bulan Lalu, Sekjen: Temui Langsung Ketua Umum
Cadangan beras pemerintah juga mencapai level yang sangat tinggi, dengan stok Bulog sempat mencapai sekitar 4,2 juta ton pada Juni 2025.
Pemerintah menyebut capaian tersebut sebagai bagian dari keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras.
“Ini bukan sekadar angka. Kalau produksi meningkat dan cadangan pangan kuat, masyarakat memiliki perlindungan yang lebih baik ketika terjadi gejolak harga atau gangguan pasokan. Tetapi pekerjaan kita belum selesai. Ketahanan pangan harus benar-benar terasa sampai ke masyarakat dan petani,” ujar De Gadjah.



