BALI EXPRESS- Ketersediaan bambu tidak saja menghasilkan kerajinan tangan dan sumber resapan air. Namun juga menjadi tempat perkembangbiakan ulat yang dalam bahasa Bali dikenal dengan nama ulat kelong sebagai bahan kuliner ekstrem di lembah Batukau, Tabanan, Bali.
Ulat kelong dijadikan kuliner ini tergolong langka. Bahkan hanya beberapa orang yang berani mengonsumsi kuliner ekstrem ini.
Meski demikian, keberadaan kuliner ulat kelong ini harus diinformasikan sebagai langkah memperkenalkan warisan budaya kuliner masyarakat pegunungan (Batukau) yang cenderung memanfaatkan tumbuhan maupun hewan tertentu secara bijak.
Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Tabanan Made Danu Tirta menjelaskan bahwa ulat kelong tergolong sebagai klasifikasi ulat pohon yang memiliki nama latin Erionota thrax. UIat ini juga disebut dengan ulat bumbung atau ulat bambu.
“Ulat kelong cukup berbeda baik dari segi habitat maupun fisik dengan ulat ancruk (ulat enau) dan olan atau sebatah yang keberadaanya cukup dikenal,” jelas Danu Tirta.
Ulat kelong hidup di dalam bambu berusia muda dan memakan damah tiying (semacam serbuk dalam bambu muda) dan kulit termuda di bagian dalam bambu. Ukuran tubuh dari ulat ini juga jauh lebih kecil dari ulat enau.
Keberadaan ulat kelong dalam bambu pada dasarnya berkedudukan sebagai hama, sebab menyebabkan gagalnya pertumbuhan bagi bambu muda tersebut.
Ciri-ciri bambu muda yang berisi Ulat Kelong adalah pertumbuhan yang tidak merata (Dungket) di beberapa ruas batang bambu muda.
Ulat kelong tidak berada disetiap ruas bambu muda, namun hanya berada di ruas-ruas tertentu.
Mencari ulat kelong dilakukan dengan memotong bambu yang memiliki ciri sebagaimana disebutkan sebelumnya.
Cara memasak ulat kelong cukup mudah. Pertama, masukan ulat kelong dalam bambu (bumbung) tanpa dicuci terlebih dahulu. Kedua, panaskan bambu yang berisi ulat kelong (Nimbung).
Ketiga, angkat ulat kelong yang telah dipanaskan dalam bambu, cuci bersih, dan tiriskan.
Keempat, siapkan bumbu basa genep. Kelima, goreng hingga kering dan campurkan bumbu basa genep.
“Secara umum rasa ulat kelong ini sangat gurih, nyangluh, dan tidak ada rasa amis sedikitpun,” imbuh Danu.
Dia menambahkan rasanya hampir memiliki kesamaan dengan larva lebah (nyawan) yang biasanya dijadikan sebagai adonan kuliner lawar nyawan oleh masyarakat Bali.
Bumbu basa genep dapat meresap dengan mudah dalam Ulat Kelong tersebut, sehingga semakin menguatkan rasa enak dari kuliner ekstrem ini.
Kandungan gizi dari ulat kelong ini hampir sama dengan ulat pohon lain yakni, kaya akan kandungan protein. (*)
Editor : I Made Mertawan