BALIEXPRESS.ID- Karya seni ogoh-ogoh yang dibuat oleh Nyoman Martono dari Banjar Penaka, Tampaksiring, ini memang tidak memiliki ukuran raksasa seperti kebanyakan ogoh-ogoh lainnya.
Namun, sosoknya begitu kuat dalam meninggalkan kesan.
Baca Juga: Stop Jual Makanan Siap Saji, Niluh Djelantik Minta Pedagang Jual Makanan Khas Bali di IBTK
Dikutip dari postingan @infobali.viral yang menjelaskan mengenai Sosok yang diciptakannya adalah seorang pria bertubuh kecil dengan rambut gimbal kemerahan, tubuh yang membungkuk, serta kulit gelap.
Ciri khas lainnya, ia memiliki gigi tongos, mata melotot, dan telinga panjang yang dihiasi giwang emas berat.
Hanya mengenakan cawat, wajahnya tampak purba, mengingatkan pada kisah-kisah para tetua tentang makhluk yang bersemayam di antara rimbunan bambu.
Baca Juga: Dadong Geloh Lansia Asal Mengwi Hilang dari Rumah, Keluarga Sebar Informasi di Media Sosial
Nama "Bregan" dalam bahasa Bali berarti penjaga atau pengawal, sedangkan "Pering" merujuk pada bambu.
Bregan Pering dipercaya sebagai sosok yang tinggal di tempat-tempat sunyi dan teduh, seperti hutan bambu, rumpun bambu, atau tepian sungai yang dipenuhi pohon bambu.
Bambu sendiri bukan sekadar tanaman yang tumbuh cepat, melainkan rumah bagi makhluk-makhluk tak kasat mata.
Ketika rumah itu dirusak, mereka tidak serta-merta pergi, melainkan tetap hadir di sekitar manusia, meski tanpa suara.
Masyarakat Bali tidak mengusir keberadaan Bregan Pering. Sebaliknya, mereka justru mengundangnya dalam upacara Mecaru.
Baca Juga: RSUD Bangli Hadirkan Layanan Dermatokosmetik, Oka Darsana Ungkap Kelebihannya
Dalam ritual ini, mereka disediakan tempat duduk, diberi makanan, serta didoakan.
Proses ini disebut sebagai "di-somya", yaitu sebuah bentuk penghormatan agar mereka merasa damai dan tidak perlu mengganggu manusia.
Harapannya, melalui ritual ini, amarah dapat mereda, mereka yang kehilangan tempat tinggal bisa merasa tenang, meskipun hanya untuk sementara.
Lebih dari itu, manusia diajak untuk lebih berhati-hati sebelum merusak suatu tempat yang belum sepenuhnya dipahami.
Sebab, siapa tahu di balik batang bambu terakhir yang berdiri, ada sepasang mata melotot yang bukan menatap dengan kebencian, melainkan dengan harapan untuk didengar.
Editor : Wiwin Meliana