BALIEXPRESS.ID – Dunia seni dan budaya Bali berduka. Seniman drama gong legendaris, Prof. I Wayan Sugita, berpulang pada Selasa malam (7/1/2026).
Pemeran Patih Agung ini menghembuskan napas terakhir di rumah sakit setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya.
Kabar kepergiannya dengan cepat menyebar dan mengundang duka mendalam dari berbagai kalangan.
Ucapan belasungkawa pun mengalir, termasuk dari Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa melalui media sosial resminya.
Seperti diketahui, almarhum merupakan guru besar bidang Ilmu Kajian Budaya Hindu di UHN Sugriwa.
Sugita tercatat menerima Surat Keputusan (SK) guru besar pada 2023.
Sugita lahir pada 1965. Sebelum lebih dikenal dengan Patih Agung, ia sebenarnya tidak mengenyam pendidikan seni secara formal.
Namun demikian, bakat dan kecintaannya pada seni mendorongnya untuk belajar secara otodidak.
Dengan kerja keras dan dedikasi, ia berhasil menembus panggung drama gong profesional.
Namanya mulai melambung pada 1984, saat ia meraih juara pemeran pria utama terbaik dalam festival drama gong remaja se-Bali.
Tak puas hanya menjadi aktor, I Wayan Sugita ingin membangun drama gong yang lebih profesional.
Ia pun mengumpulkan para pemenang festival dan mendirikan grup Panji Nuarasrama pada tahun yang sama.
Dari sinilah, namanya semakin dikenal dan perannya sebagai Patih Agung makin melekat di hati para penggemar drama gong.
"Apapun peran yang kita lakoni, yang penting kita lakukan dengan totalitas," ungkapnya dalam sebuah wawancara.
Sepanjang kariernya, I Wayan Sugita mengalami berbagai pengalaman menarik, termasuk menghadapi penonton nakal di panggung.
Namun, ia selalu menyikapinya dengan bijak dan profesional, membuktikan bahwa seorang seniman sejati harus memiliki ketahanan mental yang kuat. (*)
Editor : I Made Mertawan