SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sore menjelang Nyepi di Desa Adat Buleleng selalu punya denyut yang berbeda. Bunyi gamelan mulai terasa, jalanan desa bersiap menjadi ruang temu, dan semangat yowana perlahan menyatu dalam satu irama. Tahun ini, denyut itu kembali dipertegas melalui Pengerupukan Festival II, sebuah perayaan budaya yang bukan sekadar tontonan, melainkan ruang bersama untuk berekspresi.
Pengerupukan Festival II digelar sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi. Parade ogoh-ogoh akan menampilkan karya-karya dari 14 banjar adat di Desa Adat Buleleng. Setiap banjar diberi ruang menampilkan maksimal lima ogoh-ogoh, termasuk karya anak-anak, yang semuanya diarak bersama tanpa penilaian juara.
“Yang kami tonjolkan bukan siapa paling bagus, tapi bagaimana semua bisa berjalan bersama,” ujar Kelian Desa Adat Buleleng, Jro Nyoman Sutrisna, Jumat (23/1).
Menurutnya, konsep parade memberi ruang lebih luas bagi yowana untuk berekspresi tanpa beban kompetisi. Ia menegaskan, keterlibatan yowana menjadi roh utama festival ini. Mulai dari perencanaan, kepanitiaan, hingga pelaksanaan parade, semuanya digerakkan oleh generasi muda desa adat. Desa hanya memfasilitasi dan memberi dukungan penuh.
“Tahun ini tetap dengan branding Pengerupukan Festival II. Yowana kami bebaskan berkreasi. Bahkan ogoh-ogoh anak-anak juga kami libatkan. Ini bagian dari proses belajar dan regenerasi,” jelas Jro Sutrisna.
Menurutnya, kekuatan Pengerupukan Festival Desa Adat Buleleng terletak pada konsepnya yang mengedepankan kebersamaan dan identitas lokal. Parade ogoh-ogoh tidak hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga cerminan karakter masyarakat Buleleng yang guyub dan kreatif.
“Kalau konsisten digelar dan terus dikemas dengan baik, festival ini bisa menjadi identitas budaya Buleleng, bahkan dikenal di tingkat nasional,” tambahnya.
Jro Sutrisna berharap, sinergi antara desa adat dan pemerintah daerah terus terjaga, khususnya dengan Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata.
“Pada Pengerupukan Festival pertama, kegiatan ini sempat disaksikan langsung oleh Ibu Wakil Menteri Luh Puspa. Kami berharap tahun ini beliau bisa hadir kembali. Ke depan, kami ingin festival ini benar-benar bisa masuk agenda KEN,” ujarnya. ***
Editor : Dian Suryantini