Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ogoh-ogoh Wit Kawit Karya ST Taruna Dharma Castra Sidakarya Raih Juara Kasanga Festival

Putu Resa Kertawedangga • Senin, 9 Maret 2026 | 15:00 WIB

Ogoh-ogoh Wit Kawit karya ST Taruna Dharma Castra, Banjar Tengah, Desa Sidakarya yang meraih juara I dalam Kasanga Festival 2026.
Ogoh-ogoh Wit Kawit karya ST Taruna Dharma Castra, Banjar Tengah, Desa Sidakarya yang meraih juara I dalam Kasanga Festival 2026.

BALIEXPRESS.ID - Lomba ogoh-ogoh dalam Kasanga Festival tahun 2026 di Lapangan Puputan Badung, Kota Denpasar telah berakhir.

Dalam pelaksanaannya, karya ST Taruna Dharma Castra, Banjar Tengah, Desa Sidakarya keluar sebagai juara.

Ogoh-ogoh yang berjudul Wit Kawit ini pun berhasil unggul dari karya ST Sukarela, Banjar Kepisah, Desa Pedungan di posisi kedua, sedangkan juara ketiga ST Swadharmita, Banjar Ceramcam, Desa Kesiman.

Kemudian juara harapan I, diraih ST Satya Dharma, Banjar Pekandelan, Desa Sanur Kaja, juara harapan II ST Swastika, Banjar Pekambingan, Kelurahan Dauh Puri, dan juara harapan III ST Mekar Sari, Banjar Kesambi, Desa Kesiman Kertelangu.

Sementara untuk juara favorit diraih oleh ST Cantika, Banjar Sedana Mertha, Ubung.

Kepala Dinas Kebudayaan Denpasar, Raka Purwantara mengatakan, pemenang dalam lomba ogoh-ogoh Kasanga Festival ini akan mendapatkan hadiah di luar uang pembinaan.

Terlebih setiap peserta yang masuk dalam 16 besar mendapatkan uang pembinaaan masing-masing Rp 30 juta.

"Untuk juara I mendapat hadiah Rp 50 juta, juara II Rp 40 juta, dan juara III Rp 30 juta," kata Raka Purwantara, Senin (9/3).

Pihaknya pun menyebutkan, juara harapan I Rp 20 juta, harapan II Rp 15 juta, dan harapan III Rp 10 juta.

Kemudian ada juga hadiah tambahan untuk juara tambahan dengan nilai Rp 10 juta.

Ogoh-ogoh Wit Kawit mengangkat kisah Gowaksa yang diambil dari Lontar Ketaka Parwa tentang lahirnya para kera, Abdi Rama, dan Kekawin Nitisastra.

Gowaksa digambarkan sebagai makhluk berwujud kera dengan wajah menyerupai burung, menimbulkan keresahan di tengah masyarakat karena dianggap memiliki rupa dan wajah yang tidak lazim.

Namun keberadaan Gowaksa memiliki makna positif bagi Sang Rama, sebab tokoh ini merupakan salah satu palawaga yang berperan dalam membantu Sang Rama menaklukkan Alengka.

Dalam narasi mitologis, Gowaksa diceritakan terlahir sebagai akibat dari kutukan Dewa Siwa, yang menyebabkan para dewa harus memiliki keturunan berwujud kera sebagai konsekuensi dari kelahiran Hanoman.

Kisah Gowaksa bermula dari air yang semula diperuntukkan sebagai amerta, yaitu sumber kehidupan, namun masuknya Cupu Manik ke dalam air yang diperebutkan oleh Arya Bang, Arya Kuning, dan Dewi Anjani

Hal ini menimbulkan perubahan yang berdampak pada transformasi Arya Bang dan Arya Kuning menjadi makhluk berwujud kera.

Selain itu, Anjani mengalami perubahan berupa tangannya berbulu, kemudian penyatuan air kehidupan dalam dirinya yang secara simbolik merepresentasikan sel ovarium dengan air kehidupan pada Kesari yang merepresentasikan sel sperma sehingga mengakibatkan kelahiran Hanoman.

Wit Kawit berarti awal mula suatu keturunan atau kelahiran, peristiwa ini kemudian menyebabkan Dewa Siwa menurunkan kutukan kepada para dewa, yang pada akhirnya melahirkan tokoh bernama Gowaksa. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#Kasanga Festival #ogoh-ogoh #denpasar