Hal ini sesuai dengan cerita yang terdapat dalam Lontar Tattwa Kala yaitu saat Hyang Kala tidak dapat bertemu dengan Ayah Ibunya, lalu bhatara Siwa meminta agar taringnya dipotong, setelah itu baru beliau mau menjelaskan siapa ayah-ibunya.
Dosen Kajian Budaya, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Ida Bagus Gede Paramita mengatakan, dalam ritual potong gigi saat sang anak beranjak dewasa, ada sejumlah tahapan yang sarat akan makna filosofis. Menurut Lontar Kala Tattwa, tahapan tersebut diawali dengan upacara Pekalan-kalan. Upacara ini dilaksanakan sehari sebelum upacara potong gigi, biasanya dilaksanakan pada sore hari dengan sarana berupa upakara caru ayam brumbun.
Biasanya dibuatkan sanggar agung sebagai tempat pemujaan kehadapan Sang Hyang Smarajaya dang Sang Hyang Smara Ratih. Karena itu caru diletakkan persis di depan tempat pemujaan. “Upacara ini bertujuan sebagai persembahan ke hadapan Bhatara Kala agar pengaruh keburukannya dapat dinetralisir menjadi pengaruh kedewataan yang berguna bagi anak dalam mengarungi salah satu unsur Tri Upasaksi yaitu Bhuta saksi,” ungkapnya.
Tahapan selanjutnya adalah Upacara pengekeban. Upacara ini biasanya dilakukan di sebuah bangunan (bale) yang terkurung dan diberi hiasan sehingga kelihatan indah dengan dipasangkan sanggah Ardha Candra yang berisi upakara di sebelah kanan dan kiri pintu masuknya.
Sanggah Arda Candra tersebut merupakan tempat pemujaaan Sang Hyang Kama Bang disebelah kiri dan Sang Hyang Kama Petak disebelah kanan dari raha keluar pintu. Kata pengekeban berasal dari kata ngekeb yang artinya mematangkan denga pada hari itu terjadi suatu proses perubahan status dari status anak dengan Dewa pelindungnya Sang Hyang Kumara menjadi status remaja dengan Dewa pelindungnya Sang Hyang Smarajaya/ Sang Hyang Smara Ratih.
“Pada pelaksanaan upacara tingkat inilah dilaksanakan pedidikan budi pekerti berupa petuah-petuah sebagai santapan rohani bagi anak. Dengan harapan agar anak mampu mengadakan perubahan pada dirinya terutama mengubah kebiasaan-kebiasaan yang buruk menjadi kebiasaan baik,” paparnya.
Kemudian dialkukan Upacara ngendang atau pemotongan enam buah gigi sebagai simbol sad ripu. Upacara ini dilaksanakan dihadapan pelinggih kemulan. Pada waktu pelaksanaan upacara pengendangan, dimohonkan kehadapan Hyang Siwa Guru, disanalah dimohonkan tirta pesangihan, sebagai kekuatan penglebur kekuatan adharma pada anak yang akan dipotong giginya.
Menurut Kalapati Tattwa ayahnya sendiri yang seharusnya menjadi sangging atau tukang potong gigi. Namun karena pekerjaan itu cukup rumit maka dapat diwakilkan kepada seseorang yang memiliki keahlian sebagai sangging.
Namun waktu ngendang harus dilakukan di pemerajan. Demikian juga saat upacara ini dilaksanakan secara simbolis sebagai pembayaran hutang anak kepada orang tua dengan menyembah memakai kwangen. Pada upacara ngendang ini merupakan puncak upacara potong gigi yang nerupakan ritual keagamaan menurut ajaran agama Hindu dan merupakan salah satu dari Tri Upasaksi yaitu Dewa Saksi.
Saat potong gigi berlangsung di sebuah tempat tidur beralaskan tikar berisi tulisan (rerajahan) berupa gambar Sabg Hyang Smarajaya/Smara Ratih dan pada flapon bale dibuat semacam hiasan dari kain berbentuk melingkar yang disebut telaga ngembeng.
Pada tempat inilah anak yang potong gigi melaksanakan persembahyangan lagi. Bagi anak laki-laki kehadapan Sang Hyang Smarajaya sedangkan yang perempuan kehadapan Sang Hyang Smara Ratih.
Setelah selesai pemotongan gigi maka dilanjutkan dengan upacara mejaya-jaya. Mejaya-jaya berasal dari kata jaya yang artinya menang atau restu, karena saat itulah pemimpin upacara memohonkan restu ke hadapan Sang Hyang Siwa Guru agar anak yang potong gigi dianugrahi kemenangan dalam berpikir, dalam perbuatan dan menang dalam berbicara.
“Upacar potong gigi belum dianggap selesai jika belum melaksanakan mejaya-jaya karena segala kegiatan keagamaan sangat erat hubungannya dengan permohonan restu kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” pungkasnya. Editor : I Putu Suyatra