Lontar Bali dibuat dengan cara seksama dengan cara tradisional. Kesabaran yang tinggi, juga suasana yang khusyuk akan menghasilkan lempiran lontar sehelai demi sehelai. Semuanya dibangun atas dasar keyakinan, ketekunan, dan kedisiplinan.
Seniman Lontar dan Prasi Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta mengatakan, agar menghasilkan lontar yang berkualitas tentu harus dibuat dari helai daun lontar yang dihasilkannya sebagai lempiran.
Daun lontar atau lempiran yang dimaksud berbentuk blanko dihasilkan melalui proses khas teknologi tradisi Bali selempir demi selempir, sehingga menghasilkan pepesan, satu bendel berjumlah ratusan lempiran.
Pembuatan lempiran lontar, sebut Sudiasta, memang memakan waktu yang relatif lama, rumit, membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Tujuannya adalah agar mendapatkan mutu lempiran yang baik, bertahan dalam waktu yang panjang, mudah ditulisi, serta bentuknya yang indah dan rapi.
Sebelum prosesi pembuatan lontar dilakukan, seniman lontar memperhatikan jenis pohon lontar yang akan dipetik daunnya. Pohon yang baik untuk diambil daunnya adalah telah berumur lebih dari 3 tahun.
Biasanya dipilih yang tumbuh di tanah mengandung kapur atau berzat kapur, tanah bebatuan seperti tanah lahar, tanah di tepi laut, mendapat sinar matahari langsung dari pagi hingga sore. Pernah disadap niranya dan tidak banyak mengandung sagu.
Daun tal cukup tebal dan tiap bilahnya terdiri dari dua helai dalam satu lidi, maka proses pengeringannya agar benar-benar kering seperti yang diinginkan, tentu memakan waktu yang cukup lama. Harus dijemur di tempat yang terang dan dilakukan beberapa kali, sehingga benar-benar-benar kering.
Musim petik yang baik pada Sasih Kasanga-Kadasa, yakni seputar bulan Maret — April yang disebut kerta masa. Selain itu, Sasih Katiga-Kapat seputar bulan September-Oktober yang disebut gegadon. Alasannya, pada bulan-bulan ini adalah musim kemarau, saat matahari bersinar panas dan suasana langit terang benderang.
Bilah daun tal kering petik yang dipilih untuk pepesan adalah yang bilahnya panjang, lebarnya sesuai, permukaan rata tidak tuludan atau berlekak-lekuk. “Seratnya halus, tidak berbintik-bintik, dan helai daunnya tidak terlalu tebal atau terlalu tipis,” imbuhnya.
Bilah daun tal petik kering dipotong ujung dan pangkalnya dengan ukuran panjang tertentu sesuai dengan keperluan. Ngesit (melepas lidi) dilakukan secara hati-hati agar bilah daun lontar kering petik tidak amis (rusak).
Bilah daun tal kering petik yang sudah dilepaskan lidinya dikumpulkan dan ditata sedemikian rupa kemudian direndam selama tiga minggu.
Pada minggu pertama air kum berwarna keruh kekuningan dan berbau kurang sedap sehingga harus diganti setiap hari, pagi, dan sore.
“Pada minggu kedua dan ketiga air kum diganti setiap tiga hari sekali, hingga air kum benar-benar bersih, tidak berbuih, dan tidak berbau lagi. Merendam daun tal kering petik dengan tujuan menghilangkan sagunya, agar hampa tak rapuh (serbukan) yang disukai rayap.” paparnya.
Setelah tiga minggu, daun tal lalu diangkat dan diguyur air bersih, dijemur, ditebarkan sedemikian rapi di tempat yang terang, sehingga hari itu juga dipastikan benar-benar kering. Tiga bulan kemudian baru direbus.
Merebusnya memerlukan alat perebus, seperti panci besar, tungku, kayu api, dan air cukup dan dijaga dengan seksama. Ramuan bahan pengawet seperti kulit pohon kayu intaran, kayu wong, kulit pangkal pohon kelapa, batang kantewali, daun sambiroto, umbi gadung diparut.
Rempah-rempah seperti lada, merica, jebug harum, jebug (buah pinang yang tua) semua dirajang dan kemudian ditumbuk hingga halus menjadi serbuk.
Bahan-bahan itu digunakan sesuai dengan jumlah rontal yang akan direbus. Saat merebus, setiap kali air rebus harus menambahkan air secukupnya hingga berlangsung lima enam jam.
“Lebih lama direbus hasilnya lebih baik. Daun tal yang dianggap telah masak, biarkan jangan langsung diangkat agar dingin dengan sendirinya. Setelah dingin angkat dan segera jemur di tempat yang lapang dan mendapat sinar matahari penuh,” ungkapnya.
Agar lebih cepat kering, lontar yang telah dijemur harus posisinya dibolak-balik selembar demi selembar. Setelah merata kering, diangkat perlahan-lahan agar tidak pecah.
Dikatakan Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta, sebanyak 30-50 lembar lontar disatukan. Kemudian diikat ujung, tengah, dan pangkalnya. Disimpan di tempat yang aman agar terhindar dari sinar matahari, hujan dan hawa panas berlebihan. Lama menyimpan rata-rata 3-4 bulan, semakin lama disimpan kualitasnya semakin membaik.
Selanjutnya lontar dipres tradisional lontar yang dibuat dari kayu dengan menggunakan pasak. Alat ini digunakan untuk meluruskan dan memampatkan serat dan rongga-rongga yang kemungkinan masih terdapat pada lontar setelah proses pengeringan.
Caranya, daun lontar yang telah direbus dan disimpan berbulan-bulan dimasukkan ke dalam penjepit blagbag secara teratur sesuai dengan panjang lontar masing-masing. Setelah berjumlah seratus, disela dengan penampang kayu (pandalan). Demikian juga selanjutnya hingga penuh sesuai kapasitas blagbag. “Pasak dipasang, beberapa hari lontar mengalami pemampatan, pasak pun longgar. Disela dengan pandalan dan dipasak kembali hingga mampat. Proses ini dilakukan berminggu-minggu kadang bulanan, hingga rontal benar-benar lurus dan rata,” paparnya.
Pembuatan lontar pepesan didahului dengan pembuatan mal yang dibuat dari daun tal dengan panjang dan lebar yang telah ditetapkan, diisi lubang sebesar jarum. Mal ditempel di atas daun tal, jarum pirit ditusukkan pada tengah-tengah lubang kecil mal yang di kiri, kanan, dan tengah. Mirit, melubangi lontar di samping kiri, kanan, dan tengah tepat di titik ujung pirit.
Lontar yang telah mapirit atau berlubang kemudian dimasukkan lidi (jelujuh). Tujuannya agar tidak mudah bergerak saat diiris dan dirapikan pinggirannya. Langkah-langkah berikutnya dalam proses pembuatan lontar adalah nepes (menjepit), nyerut (mengetam), dan nyepat (menggaris). “Nepes adalah pres terakhir lontar tepesan. Nyerut adalah merapikan ujung pangkal dan diisi cat tradisional Bali agar kelihatan indah dan rapi.
Sedangkan nyepat adalah tindakan terakhir prosesi pembuatan lontar tepesan siap tulis (gores) dengan pangrupak. Bisa ditulis aksara Bali yang kemudian disebut lontar atau digambar seperti prasi,” pungkasnya.