Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Patahkan Gugon Tuwon, Gedong Kirtya Berkontribusi bagi Bali dan Dunia

I Komang Gede Doktrinaya • Kamis, 16 Juni 2022 | 19:31 WIB
Filolog Sugi Lanus. Istimewa
Filolog Sugi Lanus. Istimewa
BULELENG, BALI EXPRESS -Filoloh Sugi Lanus menyebutkan Museum Gedong Kirtya menjadi rujukan penyusunan dan pedoman Parisada dan para pemuka agama, seperti sulinggih. Khususnya saat menyusun buku-buku pengajaran dan penyuluhan Agama Hindu dari sebelum kemerdekaan dan sampai kini.

Koleksi Kirtya menjadi sumber-sumber mempelajari pemikiran filsafat, etika, sejarah kerajaan, teologi, sastra dan linguistik bagi para peneliti dunia dan masyarakat Bali, dari sebelum kemerdekaan dan sampai kini.

Gedong Kirtya yang berada jantung Kota Singaraja, Buleleng ini, menjadi momentum terbukanya khazanah lontar Bali bagi semua masyarakat, terbuka umum. Tidak ada yang ditutupi lagi, semua masyarakat bisa memegang dan membaca lontar.

Semenjak berdiri Kirtya keterbukaan dan keinginan masyarakat Bali untuk belajar tradisi tulis atau literatur kuno menjadi meningkat drastis, dan ini membantu dalam perumusan Agama Hindu di era kemerdekaan dan awal terbentuknya Parisada.

“Gedong Kirtya ada monumen bagaimana yang dahulu dianggap tenget dan magis, atau terlarang bagi kelompok di luar brahmana, menjadi tidak berlaku lagi. Hooykaas bersaksi dari Agustus 1939 hingga Desember 1941 ada ribuan pengunjung Bali mendapat kesempatan lontar-lontar Bali yang dahulu mereka tidak bisa akses dengan berbagai alasan,” jelasnya.

Adanya omongan atau kepercayaan keliru bahwa lontar tidak dibaca atau tidak boleh disentuh dipelajari masyarakat umum telah digugurkan oleh kehadiran Gedong Kirtya dengan koleksinya.

Jasa Kirtya terbesar bagi masyarakat Bali, sebut Sugi adalah 'mematahkan gugon tuwon' alias mula keto, kalau lontar-lontar tidak bisa dipelajari masyarakat umum. Kirtya adalah monumen kesetaraan dalam akses pengetahuan tradisional.

Dikatakannya, jika Prof Suniti Kumar Chatterji dan Tagore serta rombongan, Prof Raghu Vira, Prof Lokesh Chandra, Dr. Sudarshana Devi, Dr. Sharada Rani, para pakar Sanskerta papan atas India saja belajar Sansekerta dan agama Hindu ke Gedong Kirtya Buleleng, maka  tidak berlebihan jika Jangan Belajar ke India sebelum ke Gedong Kirtya Buleleng.

“Masyarakat dan Pemerintah Buleleng sudah sepantasnya bangga dengan keberadaan Gedong Kirtya, aset pendidikan dan berbagai kepentingan lainnya, termasuk pariwisata, sudah sepantasnya berserius menimbang kembali dan memperhatikan secara nyata dengan kebijakan anggaran untuk riset-riset dan pengembangan sumber daya manusia di Kirtya sendiri,” pungkasnya.

 
Photo
Photo
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #balinese #Pakar Sanskerta India #adat #hindu #Filolog Sugi Lanus #pura #budaya #tradisi #Koleksi Ribuan Lontar #Museum Gedong Kirtya