Ada pula bunga tunggal dengan daun pelindung kecil berwarna hijau. Mahkota bunga berwarna kuning sedangkan benang sari dan putik berwarna putih. Buahnya bulat dengan diameter sekitar 1,5 sentimeter berwarna merah. Bijinya kecil, keras, berwarna coklat. Pohon ini disebut pohon Dewandaru (Eugenia uniflora).
Di sebelah pohon tersebut Made Desi Ariani, 43, tengah sibuk melayani pelanggan yang datang ke salonnya, Senin (12/9) siang. Desi mengatakan pohon Dewandaru itu ditanam oleh mertuanya. Saat berbuah, pohon ini akan memiliki buah berwarna hijau. Kemudian berubah menjadi hijau tua, lalu kuning. Kemudian menjadi oranye. Saat matang akan berwarna merah hati.
Soal rasa, buah ini memiliki rasa asam bercampur pahit. Terkadang muncul rasa sepat. Rasa manis yang dirasakan pada buah ini cenderung minim. “Cermen lebih enak. Sepet manis pahit segala macam. Katanya buat penyakit dalam bagus,” sambung Kadek Gunawan Saputra, anak kedua dari Desi.
Kendati banyak diburu untuk dijadikan obat, keluarga Desi sangat jarang memanfaatkan bagian-bagian pohon tersebut. Apabila ada yang meminta bagian pohon tersebut termasuk bibitnya, keluarga itu dengan murah hati memberinya secara cuma-cuma.
“Keluarga kami jarang pakai obat, tapi ada yang minta pakai obat. Ada yang minta daunnya, buahnya, kayunya. Paling lama 10 tahun baru belajar berbuah. Kayunya seperti sotong (jambu biji). Makules dia. Kulit tua lepas, tumbuh kulit baru,” papar Desi sambil melayani pelanggannya.
Saat ditanam, pohon Dewandaru ini cukup diletakkan pada satu tempat saja. Jika dipindah-pindah maka pohon ini susah untuk berbuah, bahkan mati. Sehingga dibutuhkan tempat yang strategis dan tidak mungkin dipindahkan. “Pohon ini memang rewel. Susah hidupnya. Kerinyi. Sekali tanam di satu tempat, jangan dipindah-pindah lagi,” ujarnya.
Pohon dewandaru yang dikenal dengan berbagai kisah mistisnya juga menyimpan cerita tersendiri di Bali. Dalam kisah pewayangan Mahabrata, pohon ini adalah jelmaan manusia. Konon terdapat seseorang yang bernama Dewandaru yang menjadi rebutan antara Kurawa dan Pandawa lantaran dipercaya sebagai kunci untuk menguasai dunia. “Agar tidak dapat diperebutkan, orang ini berubah menjadi pohon. Begitu secara singkat yang saya tahu,” jelas Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa dari Griya Agung Batur Sari, Banjar Gambang, Mengwi, Badung.
Aroma kayu Dewandaru yang harum pun dipercaya sebagai sarana pencapaian kesempurnaan dalam ilmu kanuragan. Selain itu, dianggap memiliki khasiat sebagai pengasihan, menambah karisma, dan pengusir gangguan gaib.
Di balik khasiat mistis yang dipercayai oleh sebagian masyarakat, pohon Dewandaru ternyata memiliki berbagai manfaat yang teruji secara klinis.
Buah Dewandaru selain mengandung air juga mengandung protein, karbohidrat, dan vitamin C. Kulit kayunya mengandung tanin. Sedangkan daunnya banyak mengandung minyak atsiri, saponin, flavonoid.
“Sepertinya kita tidak boleh terlalu terlena dengan berbagai khasiat mistis yang dipunyai pohon Dewandaru (dan pohon bertuah lainnya). Sebaliknya, berbagai keyakinan yang berkembang di masyarakat tersebut hendaknya memacu kita untuk mengeksplorasi kandungan dan khasiatnya secara klinis dan ilmiah. Bisa jadi, para pendahulu kita mencoba memberitahu kita tentang manfaat besar suatu spesies, faktor tingkat pemahaman dan pengetahuan lah yang kemudian mengubah pesan tersebut menjadi serangkaian kisah mistis dan magis,” papar Mpu Yoga.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya