SINGARAJA, BALI EXPRESS - Saat upacara agama Hindu di Bali dilaksanakan, senantiasa dilaksanakan prosesi memutar mengelilingi sebuah sarana baik ke kanan (pradaksina) maupun ke kiri (prasawya).
Masing-masing putaran dalam upacara agama Hindu di Bali tersebut memiliki filosifis masing-masing.
Lalu, saat kapan upacara agama apa umat Hindu di Bali harus memutar ke kanan dan ke kiri dalam prosesi mengelilingi sebuah sarana tersebut?
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda dalam @WIRA.IDChannel mengatakan, ada parikrama prasawya dan pradaksina.
Dalam pradaksina, maka mengkanankan benda. Itu berarti kegiatannya membumi, dari niskala ke sekala.
“Ritual apa saja yang melakukan prosesi memutar ke kanan? Dari manusa yadnya kalau tradisi ngiderin lesung. itu arahnya ke kanan. Konsep ini bukan menyangkut pria dan Wanita. Karena menyangkut penciptaan atau mengada,” jelasnya.
Kemudian saat upacara atma wedana atau nyekah, ada prosesi mepurwa daksina. Ada juga upacara nadi Ida Bhtara saking jeroan tedun ke jaba tengah yang disebut napak siti. Maka di jaba tengah proses perputarannya dari kiri ke kanan.
Sedangkan untuk parikrama prasawya, perputarannya dari kanan ke kiri.
“Namanya parikrama prasawya erat kaitannya dengan upacara kematian, atau pelepasan. Termasuk ngiderin layon. Upacara ke kiri bukan berarti bersifat menurunkan. Tetapi ngelesin atau membuka ikatan roh dengan jasad,” sebutnya.
Begitu juga saat prosesi Nyomia Bhuta melalui upacara pecaruan, yakni prosesnya memutar ke kiri.
Termasuk saat upacara Nyineb ida bhatara dengan prosesi upacara memuter ke arah kiri.
Ida pandita menyebutkan jangan menggunakan stigma ke kiri itu ilmu kiri (magic), atau kanan ilmu (ilmu kanan).
Menurutnya, jangan diplesetkan kalau acara berkaitan dengan dewa yadnya maka putar ke kanan, kalau ke kiri pitra. Itu adalah keliru
“Konsepnya sederhana saja, setiap penciptaan maka prosesnya pasti memutar ke kanan. Dan ketika nyineb bhatara maka putarannya ke kiri. Kalau Ngaben putarannya ke kiri, kematian juga. Pokonya upacara kematian sudah pasti ke kiri. Itulah prasawya,” tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra