BALIEXPRESS.ID - Ratu Niyang Sakti Tanah Kilap yang dipuja di Pura Tanah Kilap dikenal sebagai ratu wong samar.
Dia adalah putri rohaniwan Hindu Dang Hyang Dwijendra yang berasal dari dari Daha, Jawa Timur.
Menurut beberapa sumber buku, kisahnya berawal dari perjalanan Dang Hyang Dwijendra ke Bali.
Dang Hyang Dwijendra yang juga disebut Nirartha adalah seorang rohaniwan Hindu yang berasal dari kerajaan Daha, Jawa Timur.
Ketika Hindu di Jawa mulai terdesak, sekitar tahun 1546, tokoh ini melakukan tirtayatra (perjalanan suci) ke Bali.
Tempat pertama yang dikunjungi adalah kawasan hutan Prapat Agung, kini Taman Nasional Bali Barat, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana.
Dari tempat ini Dang Hyang Dwijendra mengawali langkahnya untuk melakukan perjalanan suci dan penyebaran agama Hindu di seluruh kabupaten di Bali.
Dalam perjalanan sucinya ke Bali, Dang Hyang Dwijendra memboyong istri beserta anak-anaknya.
Namun perjalanan suci ini pula menyisakan penggalan sejarah keberadaan wong samar di Bali.
Diceritakan, ketika Dang Hyang Dwijendra melakukan perjalanan ke Bali Utara, di kawasan Singaraja, pendeta Hindu ini bertapa di sebuah goa.
Di dalam goa ini ia bertemu dengan seekor naga dan masuk ke dalam mulut naga.
Ketika keluar dari mulut naga, wajah sang pendeta terlihat menyeramkan yang membuat istri anak-anaknya ketakutan dan berlarian.
Dang Hyang Dwijendra pun terpisah dengan keluarganya. Dalam pencarian, Dang Hyang Dwijendra sampai di Bukit Penguwungan.
Di tempat ini, sang pendeta bermeditasi, memohon petunjuk tentang keberadaan anak dan istrinya.
Dalam semedinya, sang pendeta bertemu dengan Ki Dukuh Sakti Pacekan.
Dari Dukuh Sakti inilah sang pendeta mendapat petunjuk di mana anak dan istrinya berada.
Berbekal petunjuk tersebut, sang pendeta menyusuri utara Bukit Penguwungan dan bertemu dengan istrinya.
Namun sang istri memilih tidak melanjutkan perjalanan mengikuti sang pendeta, tetapi memilih tinggal di bukit tersebut yang kini menjadi tempat pemujaan.
Namun anaknya bernama Dyah Wiraga Salaga tak kunjung ditemukan sehingga sang pendeta memutuskan mencari anaknya.
Dalam pencarian sampailah sang pendeta di sebuah perbukitan yang kering. Di bukit tersebut terdapat sebuah batu besar yang dirindangi pepohonan.
Di sanalah seorang gadis yang tak lain putri sang pendeta terlihat duduk menangis, meratapi peristiwa yang sudah terjadi.
Dengan penuh kasih sang pendeta memeluk putrinya yang baru ditemukan dan menanyakan perihal yang dialaminya.
Sang putri yang juga diberinama Ida Ayu Swabawa ini menuturkan perjalanannya hingga terlunta-lunta di bukit ini.
Ketika sang pendeta keluar dari sebuah goa, tutur sang putri, ia melihat ayah keluar dari mulut seekor naga.
Yang membuat sang putri ketakutan, ketika melihat wajah sang pendeta yang tampak berubah-ubah, sebentar memerah lalu berubah menjadi hitam.
Dengan rasa cemas dan takut, sang putri lari hingga tiba di sebuah desa. Namun nasib tragis menimpanya. Ia dinista dan dicederai warga desa hingga lari ke bukit ini.
Perbuatan biadab yang dilakukan warga desa membuatnya tak kuasa menanggung malu. Untuk itu, ia memohon kepada sang pendata mengajari ilmu melepas raga karena merasa malu menjadi manusia.
Sang putri merasa badannya sudah tercemar sehingga meminta sang pendeta mengajarinya agar tidak tampak oleh mata manusia dan bersatu dengan gaib.
Merasa iba dengan kegundahan hati yang dialami putrinya, sang pendeta berkata, “Wahai putriku, air matamu telah membasahi seluruh batu ini. Namun jangan khawatir, air mata dan kesedihanmu tak akan sia-sia.”
“Kelak air matamu akan menjadi sumber kesejahteraan dan Anaknda akan dipuja sebagai dewi kesuburan. Seluruh penduduk akan memuja untuk memohon kesuburan dan kemakmuran kepadamu.”
“Karena itu engkau kuberi nama Ida Ayu Mbes Sari Tedung Jagat. Ayah juga memberimu ilmu rahasia agar terbebas dari dunia ini.”
Setelah dianugerahi mantra gaib, Ida Ayu Swabawa menggaib. Ia tidak lagi tampak oleh mata telanjang manusia, tetapi sudah bebadan astral.
Konon dengan ajian ini pula, sang putri mengutuk penduduk desa yang telah menistakannya menjadi makhluk gaib bernama wong samar.
Setelah menganugerahkan ajian kepada anaknya, sang pendeta melanjutkan perjalanan menuju sebuah desa di utara bukit.
Di sebuah desa ia melihat sekelompok masyarakat sedang mengadakan rapat membahas sebuah keajaiban yang terjadi di desa tersebut. Ketika itu warga desa dilanda wabah penyakit, tetapi seorang peri cantik menolong mereka.
Saat bersamaan sang pendeta juga mengunjungi desa tersebut dan mengatakan bahwa yang menolong mereka adalah anaknya bernama Ida Ayu Swabawa yang telah menggaib.
Sebagai ucapan terima kasih, penduduk desa yang berjumlah 800 orang meminta sang pendeta menyempurnakan mereka agar tidak kelihatan oleh sesama manusia.
Dalam semalam desa tersebut menjadi sunyi karena seluruh warganya menggaib menjadi wong samar sebagai pengikut Ida Ayu Swabawa. Karena itu desa itu diberinama Desa Pegametan yang berarti daerah sepi.
Versi lain menurut beberapa sumber menyebutkan, ketika sang pendeta hendak melakukan Puja Surya Sewana pada pagi hari, putrinya bernama Ida Ayu Swabawa tak nongol-nongol padahal sang pendeta menyuruhnya menyediakan bunga untuk persembahyangan.
Karena tak muncul-muncul, sang pendeta berseloroh, mengatakan anaknya seperti wong samar. Sejak itulah tubuh sang putri menggaib menjadi wong samar.