Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri Sumur di Pura Agung Blambangan Banyuwangi, Pujawalinya saat Tumpek Kuningan, Begini Sejarahnya

I Putu Mardika • Minggu, 29 September 2024 | 19:44 WIB

Pura Agung Blambangan, Banyuwangi Jawa Timur
Pura Agung Blambangan, Banyuwangi Jawa Timur
BALIEXPRESS.ID-Pura Agung Blambangan yang berlokasi di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, merupakan tempat ibadah yang sangat penting bagi umat Hindu di Jawa Timur.

Diresmikan pada tahun 1980, pura ini telah melalui proses pembangunan yang panjang, termasuk penemuan tujuh sumur selama pembangunannya.

Secara struktur, pura ini memiliki tiga bagian utama, yaitu nista, madya, dan utama mandala.

Di nista mandala, terdapat Wantilan yang digunakan sebagai tempat istirahat bagi para pemedek. Sementara, di madya mandala suasananya lebih tenang dan dihiasi dengan pohon beringin.

Sebelum memasuki utama mandala, pemedek harus mensucikan diri dengan menyiramkan tirta. Di utama mandala, terdapat banyak pohon cempaka yang tertata rapi serta pelinggih Padmasana sebagai pelinggih utama.

Romo Mangku Tukimun Haryanto, salah satu pengurus pura, menjelaskan bahwa pembangunan Pura Agung Blambangan berkaitan erat dengan perkembangan umat Hindu di Banyuwangi, terutama setelah tahun 1967.

"Saat itu, meskipun jumlah umat Hindu meningkat, belum ada tempat ibadah yang memadai, sehingga mereka mencari lokasi baru untuk mendirikan pura" katanya.

Menurut sejarah, Pura Agung Blambangan berhubungan dengan Kerajaan Blambangan dan situs Umpak Songo, yang merupakan sisa-sisa bangunan kerajaan.

Umpak Songo dulunya adalah tempat pertemuan pejabat Kerajaan Blambangan.

Namun, setelah ibukota dipindahkan pada tahun 1774, situs tersebut terbengkalai hingga ditemukan kembali pada tahun 1916 oleh Mbah Nadi Gede.

Pada tahun 1967, umat Hindu mulai memindahkan tempat ibadah dari Umpak Songo ke lokasi baru.

Saat penggalian dilakukan di lokasi pura yang sekarang, ditemukan sumber air yang diyakini terkait dengan Kerajaan Blambangan.

Penemuan sumur-sumur ini terus berlanjut bahkan ketika pura diperluas. Hingga saat ini, lima sumur dari tujuh yang ditemukan masih dianggap suci dan diyakini memiliki khasiat penyembuhan.

Romo Tukiman juga menyebut bahwa penemuan sumur selalu terjadi saat pembangunan, termasuk saat mendirikan bangunan utama seperti kori agung dan Wantilan.

"Dari tujuh sumur yang ditemukan, lima masih digunakan hingga sekarang, sementara dua lainnya telah ditutup," paparnya.

Proses pembangunan Pura Agung Blambangan memang penuh perjuangan. Umat Hindu di kawasan tersebut bahu membahu membangun pura tersebut baik dari donator maupun dengan cara menjual kupon.

Dikatakan Romo Mangku Tukimun Haryanto setelah mempunyai lahan, muncul persoalan baru yaitu susahnya membangun pelinggih. “Kalau cari pemborong yang menggarap pura, biayanya sangat tinggi. Akhirnya disiasati dengan jual kupon. Harganya dulu itu Rp 1 ribu. Yang beli beragam, ada yang ngambil 5 ada yang ngambil tujuh. Kemudian setelah terkumpul dana, lalu digarap sendiri, dan pakai tukang dari Bali. Bahan pelinggih dari paras,” katanya.

Baca Juga: Kepercayaan Hindu Bali di Balik Ritual Nebusin: Menebus Roh yang Sudah Dihaturkan di Pura Dalem atau Prajapati, Jika Tidak Bisa Berakibat Fatal

Ia menambahkan, saat ini jumlah Umat Hindu di Kecamatan Muncar selaku pengempon Pura Agung Blambangan jumlahnya mencapai 1000 KK. Saat pujawali yang nangkil ke sini ribuan. Pujawali saat tumpek Kuningan.

“Kami sudah ada sarati banten. Saat pujawali memang tetap buat banten dengan budaya Jawa. Kadang-kadang saat odalan yang nganyarin dari Bali. Odalannya nyejer selama tiga hari” sebut Romo Tukimun. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#banyuwangi #sumur #jawa timur #hindu #pura agung blambangan #pura #penyucian