Dijelaskan Perbekel Tenganan, Ketut Sudiastika, secara lebih detail proses pewarnaan dapat dilakukan dengan sejumlah tahapan.
Pewarnaan Pertama Pewarnaan minyak kemiri dicampur dengan abu kayu dengan perbandingan 3 : 7, minyak kemiri 3 liter dan abu kayu 7 liter.
Kemiri yang dipakai adalah yang sudah rusak, tidak bisa dikonsumsi lagi dan sudah sangat lama supaya warna yang dihasilkan baik.
Baca Juga: Hutan Tenganan jadi Sumber Tanaman Pewarna Kain Geringsing Sumber Pemasok Kemiri, Jadi Pewarna Alami
Kemiri digilas terlebih dahulu kemudian dikukus dan dibungkus pepes, kemudian digilas lagi hingga menghasilkan minyak.
Kemudian Benang direndam dengan minyak kemiri yang sudah bercampur dengan abu kayu. Benang yang akan diwarnai lagi, terlebih dahulu disusun menurut ukuran dan motif, dipisah menurut ukuran yang ditentukan, dan diikat pada pinggir benang.
Selanjutnya, Benang yang akan diwarnai hitam atau biru tua diikat menggunakan tali rafia biru.
Benang yang akan diwarnai merah diikat dengan tali rafia berwarna merah. Benang yang tetap berwarna putih diikat dengan rafia berwara putih.
Pewarnaan Kedua dilakukan dengan menganginkan daun indigofera yang sudah berbentuk bubuk dengan udara agar menjadi cairan yang siap pakai.
Baca Juga: Inilah Daftar Tempat Wisata Yogyakarta yang Paling Banyak Menarik Wisatawan
Selanjutnya dimasukkan cairan warna selama 12 hingga 15 hari, kemudian angkat dan keringkan.
Pewarnaan ketiga dengan menganginkan akar mengkudu yang sudah menjadi serbuk dengan udara. Benang yang sudah dilepas, direndam selama kurang lebih 15 hari
Pada perendaman terakhir diletakkan bunga, sesajen serta dipanjatkan doa kepada Dewa. Setelah proses pewarnaan selesai, dilakukan pembagian motif (nyaik).
Selanjutnya benang diolesi dengan bubur beras agar warna kain menjadi lebih awet (tahan lama). Selanjutnya kain dibersihkan dan diangin-anginkan supaya kering.
Proses berikutnya adalah menghanai, yaitu menyusun benang bermotif yang akan ditenun pada alat tenun gendongan.
Baca Juga: Lagi Pesan Makan di Restoran, Bule Italia di Ungasan Tiba-Tiba Rebah dan Meninggal
Menghanai dengan cara melilitkan benang pada tongkat kayu agar benang mudah disusun.
“Selanjutnya dimasukkan benang ke dalam sisir satu persatu (nyucuk) dengan alat bilahan kayu yang berujung runcing,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika