Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Kayonan dalam Pementasan Wayang, Simbol Alam Semesta, Dimaknai Sebagai Jantung

I Putu Mardika • Sabtu, 18 Januari 2025 | 04:14 WIB

 

Kayonan dipasang di awal dan akhir pementasan Wayang sebagai simbol Bhuana Agung
Kayonan dipasang di awal dan akhir pementasan Wayang sebagai simbol Bhuana Agung
BALIEXPRESS.ID-Pementasan wayang kulit tidak terlepas dari kayonan. Kayonan tanda dimulainya suatu pementasan wayang kulit serta sebagai tanda usainya pementasan pada bagian akhir dengan cara ditancapkan pada batang pisang di posisi tengah dari kelir.

Kayonan dianalogikan sebagai pohon besar dan rimbun, terdapat unsur dedaunan di dalam tatahan/sunggingnya, berbagai jenis buah, serta tangkai juntaian ranting.

Adapula kumbang, paksi, monyet, banteng, dan harimau sebagai penghuni di antara rerimbunan hutan tersebut.

Kayonan ini diambil dengan tangan kanan oleh Dalang lalu ditempelkan pada· bagian belakang damar wayang tadi.

Kayonan ini kemudian dimain-mainkan oleh dalang diputar-putar atau ditempelkannya ujung kayonan itu pada kelir dengan bagian bawahya agak menjauh dari kelir.

Setelah beberapa saat kayonan itu diputar-putar kesana kemari di atas kelir, maka kayonan itupun ditancapkan pada gedebong, persis ditengah kelir. Dengan demikian kayonan itu akan persis dihadapan dalang.

Baca Juga: Kisah Sukses Shitabora, Pemilik Usaha Kuliner Jero Kajanan: Berawal dari Konten Kreator

Setelah itu barulah dilanjutkari·dengan tugas para tututan/ketengkong untuk memasang satu demi satu wayang-wayang tersebut sesuai dengan tempatnya dikanan ataukah dikiri.

Wayang-wayang yang melambangkan kebaikan, kebenaran dan kebajikan ditancapkan pada bagian sebelah kanan,

Sedangkan wayang-wayang yang mencerminkan keserakahan, kelobaan, kejahatan ditancapkan disebelah kiri dalang. Setelah itu barulah mulai dengan gerakan selanjutnya, yaitu mencabut kayonan.

Jro Dalang Putu Ardiyasa menjelaskan Kekayonan adalah lambang menyerupai wujud sebenarnya dari sebuah pohon besar.

Kekayonan/Gunungan melambangkan alam semesta, lambang tersebut termasuk indeks disebabkan memiliki kedekatan eksistensi dari suatu kehidupan yaitu awal dan akhir. Kekayonan merupakan simbol bhuana agung (makrokosmos) dan bhuana alit (mikrokosmos)

“Kekayonan berasal dari kata Kayun artinya pikiran. Mengamatinya dari gerakan (tetikasan) kayonan kekanan dan kekiri sebagai simbolis dari pikiran yang adil, tidak memihak kekanan dan kekiri (netral), akan tetapi tetap berada ditengah dengan tujuan untuk membatasi pihak yang benar dan yang salah sehingga tercapai kebenaran seadil-adilnya (kaayuan),” jelasnya.

Baca Juga: Desa Dawan Klod dan Desa Nyalian Dipilih Jadi Pelaksana Program RBI Kementerian PPPA

Dalam Lontar Dharma Pawayangan juga menyebutkan kekayonan sebagai lambang dari jantung (papusuhan) yang memberikan hidup dan mengatur segala pernafasan pada setiap makhluk hidup.

Seperti halnya gedebong (pohon pisang) yang dipergunakan sebagai pancang dari wayang, wajib memakai pisang kayu lengkap dengan jantungnya (biu lalung), diikatkan dengan benang tukelan (benang tenun) serta diisi uang bolong Cina (sesari) 250 keping.

Pisang kayu bermakna simbolik dilihat telaah dari nama ataupun wujudnya yaitu, pisang merupakan tumbuhan yang hidup dan berkembang cukup mudah maka dapat diartikan tumbuh.

“Kata kayu dimaknai kaayuan/karahayuan berarti keselamatan, serta kata lalung berarti tanpa busana, dapat berarti bersih,” sebutnya.

Diduga bahwa makna simbolik secara keseluruannya adalah daya kekuatan dari upacara ruatan, akan mampu menumbuhkan kecemerlangan dari pikiran yang kacau, sehingga rintangan tak akan mampu menyelimutinya. Bentuk-bentuk sesajen lukatan ini sangat banyak, rumit dan penuh lambang-lambang.

Baca Juga: Ritual Jro Dalang Saat Tumpek Wayang, Wajib Haturkan Sesajen untuk Dewa Iswara  

Menurut Jro Dalang Ardi, banten tebasan adalah simbolis untuk menebus (tebas bermakna tebus) dosa-dosa yang telah diperbuat baik terdahulu maupun sekarang (karma wesana), banten abyâkalâ adalah simbolis untuk menghilangkan pengaruh bhutâ kalâ dan derita bawaan serta bencana yang akan menimpa diri manusia,

Banten prayascitâ durmenggalâ adalah simbolis untuk mensucikan pikiran. Kemudian toya panglukatan/toya sudamala adalah simbolis membersihkan segala cacat cela pada diri manusia.

Panglukatan berakar kata lukat yang berarti bersih, ruwat bersinonim dengan kata bersih, sinonim pula dengan Sudamala

“Perangkat ritual natab oton serta majaya-jaya merupakan simbol pengingat kelahiran dan kejayaan untuk seseorang yang terbebas dari naungan bahaya gaib (Kala),” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Kelir #wayang #pohon besar #dedaunan #wayang kulit #Kayonan