Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Oncang-Oncangan: Tradisi Unik Hindu Bali Sebelum Usaba Dodol di Karangasem

I Wayan Adi Prabawa • Sabtu, 22 Februari 2025 | 04:20 WIB

ONCANG-ONCANGAN: Pementasan yang dilakukan Sekaa Yowana Sekar Bhuana dalam tradisi Oncang-Oncangan.
ONCANG-ONCANGAN: Pementasan yang dilakukan Sekaa Yowana Sekar Bhuana dalam tradisi Oncang-Oncangan.

BALIEXPRESS.ID – Menjelang pelaksanaan Usaba Dodol atau Usaba Dimel di Desa Adat Selat, Kecamatan Selat, Karangasem, warga Banjar Adat Sila Sesana Abiantiing, Desa Amerta Bhuana, Selat, menggelar tradisi unik Hindu Bali yang disebut oncang-oncangan.

Tradisi ini bukan sekadar ritual biasa, melainkan bentuk ekspresi seni yang dipentaskan dari desa ke desa.

Masyarakat setempat mempersembahkan tarian khas ke desa-desa tetangga sebagai wujud kreativitas seni yang diwarisi turun-temurun.

Baca Juga: GEGER!!! Mayat Bayi Terkubur di Pekarangan, Polisi Temukan Pelaku dalam Hitungan Jam

Mengapa Oncang-Oncangan Dipentaskan?

Klian Banjar Adat Sila Sesana Abiantiing, I Nengah Puspa, mengungkapkan bahwa tradisi oncang-oncangan dipentaskan di lima lokasi berbeda.

“Pertunjukan ini digelar di Banjar Adat Pesangkan, Geriana Kauh, Sukaluwih, dan Umacetra, serta di Banjar Sila Sesana sendiri,” ujarnya, Jumat (21/2).

Namun, sebelum adanya tradisi oncang-oncangan, masyarakat lebih dulu melaksanakan tradisi ngoncang, yaitu membunyikan kulkul sebagai tanda akan digelarnya Usaba Dodol.

“Dulu cukup dengan membunyikan kulkul sebagai bentuk ekspresi bahwa Usaba Dodol akan segera berlangsung. Namun, seiring perkembangan zaman, muncullah tradisi oncang-oncangan,” jelasnya.

Baca Juga: Pendidikan dan Kesehatan Jadi Program Prioritas 100 Hari Sutjidra-Supriatna Pasca Dilantik

Melestarikan Seni Lewat Generasi Muda

Kini, setiap banjar adat di Desa Adat Selat diberikan kebebasan untuk mementaskan kreasi seni mereka tanpa ada paksaan.

Di Banjar Adat Sila Sesana Abiantiing, tradisi ini telah menjadi rutinitas tahunan. Pementasan dimulai setelah Usaba Pitra di Pura Dalem Puri, Desa Besakih, Rendang, nyineb.

“Biasanya, tradisi ini dilaksanakan mulai setelah upacara ngepitu hingga tiga hari sebelum Usaba Dimel,” lanjutnya.

Yang menarik, pertunjukan ini melibatkan generasi muda.

Sekaa Yowana Sekar Bhuana dari Banjar Sila Sesana Abiantiing berkolaborasi dengan krama setempat agar tradisi ini tetap lestari.

“Tujuannya jelas, agar tradisi ini tetap hidup dan diwariskan ke generasi berikutnya,” tutupnya.

Oncang-Oncangan: Warisan Budaya yang Tak Boleh Hilang

Tradisi ini bukan sekadar hiburan, melainkan simbol pelestarian adat dan budaya. Dengan mempertahankan oncang-oncangan, masyarakat Karangasem membuktikan bahwa seni tradisional masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman.

Akan seperti apa perayaan Usaba Dodol tahun ini? Akankah tradisi oncang-oncangan semakin berkembang dan menarik perhatian lebih luas? Mari nantikan! ***

Baca Juga: Kisah Duka Pagi Hari di Tuban! Warung Rutmirah Ludes Terbakar, Ledakan Misterius Jadi Sorotan

 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #unik #usaba dodol #hindu #karangasem #tradisi