Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pohon Beringin dalam Sarana Ritual: Digunakan Saat Mamukur, Daun Tidak Boleh Jatuh

I Putu Mardika • Kamis, 27 November 2025 | 01:03 WIB

 

Prosesi ngangget don beringin saat Mamukur pantang daunnya terjatuh
Prosesi ngangget don beringin saat Mamukur pantang daunnya terjatuh
BALIEXPRESS.ID-Penggunaan Pohon Beringin sebagai sarana upacara yadnya di Bali bukanlah tanpa alasan. Daun beringin kerap digunakan untuk sarana upacara pitra yadnya atau memukur khususnya dalam ritual pengajuman.

Dosen Upakara IAHN Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti mengatakan Beringin memiliki peran vital dalam upacara Pitra Yadnya khususnya upacara Ngaben. Peran vital tersebut secara lebih spesifik dilakukan pada saat rangkaian upacara yang disebut dengan mamukur.

Memukur merupakan penyucian atma agar terlepas dari badan halusnya (suksma sarira) berupa sifat-sifat manusia dan keinginannya. Sehingga bisa menyatu dengan Sang Pencipta menjadi dewa pitara

Sebagai kelengkapan upacara Memukur nantinya digunakan dalam upacara pengajuman, maka dilakukan ngangget daun bingin sebagai sarana untuk mewujudkan prakerti sang pitara dalam bentuk puspa lingga.

“Adapun sarana upakara yang diperlukan dalam ngangget daun bingin berupa daksina gede, suci, pras pangambeyan, soroan, caru eka sata, sodan, prayascita, durmanggala, pangulapan, eteheteh madatengan, mamendak, salaran, canang oyodan, dan segehan,” kata Murniti

Sedangkan perlengkapan untuk nganget terdiri dari galah yang terbuat dari bambu gading berisi pisau, tikar plasa yang di atasnya berisi kain putih (kasa), serta bokoran untuk tempat daun bingin diletakkan.

Baca Juga: Jelang Lomba, Disbud Badung Gelar Workshop Pembuatan Ogoh-ogoh

Sebelum upacara ngangget don bingin (memetik daun beringin) dilakukan, pertama-tama seorang Sulinggih bertugas untuk menghaturkan sesajen atau banten (ngwekasang banten). Sesajen yang dihaturkan pada pohon beringin (pelinggihnya) berupa suci asoroh memakai ulam bebek, pras, sodan, daksina, dan rantasan.

Setelah seluruh banten dipersembahkan kepada Dewa Sangkara yang diyakini sebagai dewa tumbuhan, masyarakat melakukan persembahyangan berupa panca sembah. Usai melaksanakan persembahyangan, penggaitan daun beringin biasanya diawali oleh seorang sulinggih, kemudian dilanjutkan dengan masyarakat lainnya.

Penggaitan tersebut dilakukan sebanyak tiga kali mengikuti arah putaran jarum jam yang disebut dengan Murwa Daksina (ke arah kanan).

Daun beringin yang sudah digait tidak boleh jatuh, oleh sebab itulah masyarakat Bali menggunakan kain kafan sebagai wadah ketika daun beringin mulai digait. Setelah daun yang digait sesuai dengan kebutuhan, daun-daun beringin tersebut ditempatkan di Bale Peyadnyan.

“Daun inilah yang nantinya akan digunakan sebagai wujud prakerti sang pitara dalam bentuk puspa lingga,” imbuh Murniti.

Baca Juga: Transaksi Mangucita HUT ke-16 Kota Mangupura Tembus Rp 1,2 Miliar

Dikatakan Murniti, rimbunnya dedaunan, batangnya yang kokoh memberikan kesejukan dan keteduhan bagi orang yang berada di bawahnya.

Pohon ini diyakini sebagai tumbuhan sorga, tempat anjangsana para pitara serta dewa-dewa. Dalam upacara keagamaan pun ini selalu digunakan, sebagai simbol keagungan dari pohon beringin

Secara mitologi pohon beringin merupakan salah satu pohon yang mendapatkan panugrahan. Dalam lontar Siwagama dikisahkan perjalanan Bhagawan Salukat yang sedang melakukan rangkaian Tirta Yatra.

Suatu ketika, beliau tiba di pesisir Negara Daha. Saat itulah Bhagawan Salukat menemukan sebatang pohon waringin pandak (beringin). Pohon beringin tersebut bisa berkata-kata seraya memohon kepada Bhagawan Salukat. “Yang Mulia Bhagawan Salukat leburlah dosa hamba, sebatang tanaman yang tumbuh di tempat-tempat suci, setiap waktu kurus dan selalu menjadi makanan hewan,” kata pohon beringin dengan kerendahan hati kepada Bhagawan Salukat.

Bhagawan Salukat yang sudah mengerti akan hakikat hidup, serta dengan kemurahan hati dianugerahilah pohon beringin tersebut. “ih kamu pohon beringin, kini wajib kamu menjadi pendamai (membuat sentosa) dunia, melebur dosa, wajib menjadi pelindung para Dewa tumbuh di setiap tempat suci,” kata Bhagawan Salukat memberikan anugerah kepada pohon beringin.

“Hal inilah yang membuat pohon beringin yang dijadikan sarana upacara terutama dalam prosesi upacara Mukur bermakna wahana penyucian bagi arwah pitara agar menjadi Dewa Hyang,” paparnya.

Usada Taru Pramana merupakan salah satu naskah lontar yang memuat informasi mengenai pohon beringin sebagai sarana pengobatan. Menariknya, teks usada ini secara naratif berkisah mengenai tokoh suci Mpu Kuturan yang kehilangan kemampuan mengobati setelah sekian lama membantu masyarakat menyembuhkan berbagai penyakit.

Menyadari hal itu, Ia kemudian melakukan tapa brata di kuburan untuk mengembalikan kemampuannya. Setelah genap sebulan tujuh hari, turunlah Bhatari dari kayangan. Beliau berkenan memberi anugerah kepada Prabu Mpu Kuturan sehingga ia memiliki keahlian untuk memanggil pepohonan untuk ditanyai khasiatnya.

Ada sekitar 160 jenis tetumbuhan yang ditanyai oleh Prabu Mpu Kuturan. Tumbuhan yang ditanya untuk pertama kalinya adalah beringin. Dalam lontar Usada Taru Pramana sebagai berikut. Titiang I taru bingin maka pasilihan Ida Sang Hyang Surya Candra. Inggih sekar titiang tis, daun titiang paněs, angurip wong lara pamalinan. Kantin titiang měsui. Ika anggen sěmbar. Malih bangsing titiang tis angurip wong lara rasa, makanti ring bawang adas. Babakan titiang panes, gěmpong titiang dumalada”

Baca Juga: Pemerintah Tingkatkan Langkah Nasional: Cara Mencegah Anak dari Bahaya Judi Daring (Judi Online)

Terjemahannnya: Hamba pohon beringin sebagai ganti beliau Sang Hyang Surya Candra. Ya bunga hamba sejuk, daun hamba panas menyembuhkan orang sakit pamalinan (pantangan). Teman (campuran) hamba mesui. Itu dipakai sembur. Lagi akar hawa hamba sejuk mengobati orang sakit kencing nanah, campur dengan bawang dan adas, kulit hamba panas, daun hamba yang muda sedang-sedang.

Dikatakan Wayan Murniti Bagian bagian dari pohon beringin memiliki kandungan tertentu. Bunga beringin mengandung zat yang sejuk, daunnya mengandung zat yang panas, akar hawanya mengandung zat yang sejuk, kulitnya mengandung zat yang panas, dan daun mudanya mengandung zat yang sedang-sedang.

Pustaka lontar Usada Taru Pramana menunjukkan bahwa pohon beringin dapat menyembuhkan sakit pamalinan (pantangan) dan seseorang yang menderita sakit kencing nanah. Untuk menyembuhkan orang yang terkena pamalinan (pantangan) beringin dicampur dengan mesui, sedangkan untuk mengobati orang yang sakit kencing bernanah, beringin dicampur dengan bawang dan adas.

Sulur atau Bangsing dari Beringin diyakini dapat mengobati seseorang yang kandungan spermanya sedikit dan encer. Sarananya pucuk daun beringin, akar kendal betuka, kelapa muda (kelongkang) yang baru ada sedikit dagingnya, tumbung kelapa panggang, ketan gajih buah demila yang telah tua, sari kuning telur, dipipis dengan batu Jawa, digambari penis, vagina.

Bangsing Beringin juga digunakan untuk mengobati mual-mual dan tidak nafsu makan. Sarananya bangsing beringin yang muda, ketan gajih.

Sedangkan untuk daun Beringin dapat digunakan mengobati sakit bengkak tanpa sebab. Sarananya daun beringin yang jatuh berjumlah 7 helai, isen 7 iris, ketumbat 7 buah, diuapkan pada bagian yang bengkak.

“Daun Beringin juga untuk mengobati bengkak pada kelamin. Sarananya daun beringin, tombong, dicampur adas, dibedakkan setelah ditumbuk,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #yadnya #upacara #mamukur #pohon beringin