Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menjaga Otentisitas Spiritual Tourism: Belajar dari Penglukatan Beji Selati, Jangan Terjebak Logika Komersialisasi

I Putu Mardika • Senin, 16 Februari 2026 | 16:16 WIB

 

Kadek Pradna Lagatama, M.Pd, M.Par, Dosen Prodi Pariwisata Budaya dan Keagamaan, IAHN Mpu Kuturan
Kadek Pradna Lagatama, M.Pd, M.Par, Dosen Prodi Pariwisata Budaya dan Keagamaan, IAHN Mpu Kuturan

BALIEXPRESS.ID-Pesatnya pertumbuhan spiritual tourism Hindu di Bali, menjadi destinasi yang cukup diminati bagi wisatawan mancanegara. Namun, perlu diingat bahwa konsep wisata ini tidak hanya berlabel 'spiritual' tetapi benar-benar berangkat dari sebuah kesadaran yang tidak terjebak logika komersialisme.

Dalam konteks ini, Penglukatan Beji Selati di Desa Bunutin, Bangli, menghadirkan refleksi penting tentang bagaimana wisata spiritual seharusnya dikelola yakni berakar pada tradisi, dijaga oleh komunitas, dan tidak tercerabut dari makna religiusnya.

Sebagai dosen Prodi Pariwisata Budaya dan Keagamaan di IAHN Mpu Kuturan, Pradna Lagatama, M.Pd., M.Par menilai bahwa Beji Selati merupakan contoh konkret spiritual tourism yang autentik.

“Wisata spiritual bukan sekadar menjual pengalaman relaksasi atau sensasi eksotik. Ia harus berakar pada sistem nilai, kosmologi, dan praktik ritual yang hidup dalam masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, Penglukatan Beji Selati menunjukkan bahwa kekuatan spiritual tourism Bali justru terletak pada kesederhanaan dan keaslian praktiknya.

Terletak di tepi sungai dengan mata air alami yang jernih serta dikelilingi pepohonan rindang, kawasan ini menghadirkan ruang kontemplatif yang jauh dari hiruk-pikuk industri pariwisata massal.

Sebelum prosesi melukat dilakukan, pemedek terlebih dahulu menghaturkan doa di pura setempat, menegaskan bahwa aktivitas tersebut adalah ritual religius, bukan sekadar atraksi.

Melukat sendiri merupakan praktik penyucian diri dalam tradisi Hindu Bali yang bertujuan membersihkan kekotoran lahir dan batin.

Namun di Beji Selati, terdapat elemen khas yang memperkuat daya tariknya, yakni ritual meboreh. Boreh atau ramuan tradisional berbahan tanah merah dan rempah yang dioleskan ke tubuh sebelum prosesi melukat.

Tanah merah yang digunakan berasal dari area sekitar beji dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari pengetahuan lokal.

Menurut Pradna Lagatama, di sinilah letak diferensiasi produk wisata spiritual berbasis budaya. “Keunikan seperti ritual meboreh bukan sekadar tambahan estetika, tetapi bagian dari narasi spiritual masyarakat. Jika dikelola dengan benar, ini menjadi unique selling point tanpa harus kehilangan sakralitasnya,” jelasnya.

Baca Juga: BRI Kembali Gelar Program Desa BRILiaN 2026, Perkuat Implementasi Asta Cita Melalui Pemberdayaan Ekonomi Desa

Ia menambahkan bahwa spiritual tourism yang berkelanjutan harus berpijak pada prinsip keseimbangan sebagaimana ajaran Hindu dalam konsep Tri Hita Karana yang merupakan harmoni antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan).

Beji Selati, menurutnya, mencerminkan dimensi tersebut. Alam tetap terjaga, ritual tetap sakral, dan masyarakat lokal menjadi aktor utama, bukan sekadar penonton dalam pembangunan pariwisata.

Fenomena wellness tourism global memang mendorong meningkatnya minat terhadap praktik penyucian diri, meditasi, hingga healing berbasis alam. Namun tanpa fondasi etika dan regulasi berbasis budaya, spiritual tourism berpotensi mengalami reduksi makna, dari ritual sakral menjadi komoditas konsumsi.

Melukat dan meboreh sebagai salah satu konsep wellnes tourism yang berakar dari dimensi spiritual
Melukat dan meboreh sebagai salah satu konsep wellnes tourism yang berakar dari dimensi spiritual

“Yang perlu dijaga adalah batas antara aksesibilitas dan komersialisasi. Destinasi seperti Beji Selati memberi contoh bahwa pembatasan justru menjaga kualitas pengalaman spiritual. Tidak semua hal harus dipaketkan secara massal,” ujarnya.

Lebih jauh, ia melihat bahwa model pengelolaan berbasis komunitas menjadi kunci keberlanjutan. Ketika desa adat dan masyarakat pengempon tetap memegang kendali atas tata kelola dan ritusnya, maka nilai-nilai spiritual tidak mudah terdistorsi oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.

Dalam perspektif akademik pariwisata budaya dan keagamaan, Beji Selati dapat dipahami sebagai bentuk living heritage tourism sebagai warisan hidup yang tidak dibekukan sebagai objek tontonan, melainkan terus dipraktikkan sebagai bagian dari kehidupan religius masyarakat.

Penglukatan Beji Selati menunjukkan bahwa spiritual tourism bukan tentang kemewahan fasilitas, melainkan kedalaman makna. Air suci, ritual meboreh, dan lanskap alam yang lestari berpadu menjadi pengalaman batin yang tidak instan.

Ia mengajak wisatawan untuk berhenti sejenak, menyelaraskan diri, dan merasakan kembali relasi sakral antara manusia, alam, dan Yang Ilahi.

"Beji Selati mengingatkan bahwa masa depan spiritual tourism Bali tidak terletak pada ekspansi tanpa batas, melainkan pada keberanian menjaga otentisitas. Sebab ketika sakralitas tetap menjadi pusat, pariwisata bukan hanya mendatangkan kunjungan, tetapi juga menghadirkan kesadaran," tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #spiritual #Tourism #hindu #destinasi