Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Motor Berasap, Bukan Mogok: Kisah Junaedi Penjual Kue Putu yang Pantang Menyerah

I
BERJUANG : Junaedi, penjual kue putu yang biasa mangkal di Jalan Puputan Klungkung.
BERJUANG : Junaedi, penjual kue putu yang biasa mangkal di Jalan Puputan Klungkung.

BALIEXPRESS.ID – Siapa sangka, suara “pssshhh” dari bambu yang beruap panas itu bukan tanda bahaya, tapi tanda rezeki datang. Itulah keseharian Junaedi, 50, penjual Kue Putu asal Brebes, Jawa Tengah, yang biasa mangkal di Jalan Puputan Klungkung.


Advertisement

Sejak tahun 2021, Junaedi setia berkeliling menjajakan kue putu khasnya. Kue Putu sendiri kata dia berasal dari singkatan Pedagang Umum Tenaga Uap (PUTU).

Dulu ia mengayuh sepeda gayung sambil membawa uap panas di belakangnya, namun kini ia berjualan sudah menggunakan sepeda motor. Bayangkan, sepeda berasap tapi bukan karena mogok, melainkan karena semangat hidup.

“Awal jualan, adonannya cuma 3 kilogram, tepung beras dicampur sedikit garam, pewarna hijaunya alami dari daun kayu sugih. Wangi dan lembut,” cerita Junaedi sambil tersenyum malu-malu.

Advertisement

Setiap harinya, mulai pukul 08.00 WITA, Junaedi mulai mempersiapkan bahan, mengukus kelapa, menyiapkan tepung, dan menunggu saat berangkat baru mengadon. Rahasia rasanya? Ia memakai gula Bali dari Dawan. “Lebih gurih dan wangi,” ujarnya bangga.

Namun, bukan tanpa tantangan. Banyak suka duka yang ia alami selama berjualan. “Kalau hujan angin, ya wassalam. Dagangan basah, pembeli bubar. Tapi kalau habis, rasanya senang sekali,” katanya.

Tentunya tantangan dan cobaan itu ia hadapi karena ia merupakan tulang punggung keluarga. Ia memiliki istri dan dua orang anak yang harus ia hidupi. Anak pertamanya sedang berkuliah, kuliah di Jawa, dan anak keduanya masih kelas 3 SMP. Katanya, semua ini demi mereka. “Nyari pengalaman di Bali, eh malah betah,” tuturnya.

Advertisement

Adapun proses membuat kue putu yang ia jual dimulai dengan adonan dimasukkan ke cetakan bambu, lalu dikukus sekitar satu menit. Dari situlah muncul suara khas “pssshhh”.

Dari berjualan kue putu, per hari Junaedi bisa mengantongi penghasilan Rp200. 000 hingga Rp300.000.

Saat awal berjualan, ia biasanya keliling wilayah Klungkung menggunakan sepedanya. Setelah terkumpul uang dan bisa membeli sepeda motor, Junaedi bisa menjangkau wilayah lebih luas lagi. Namun kini ia lebih memilih mangkal daripada berkeliling.

"Biasanya saya mangkal di Jalan Puputan dari pukul 14.00 WITA. Kalau sepi saya pindah ke Jalan Untung Surapati dekat Polres itu," tandasnya. (*)

Advertisement

Artikel Terkait

BRI Peduli Wujudkan Mimpi Kecil Mahesa, Temani Langkahnya Menuju Cita-Cita dengan Bantuan Sepeda

BRI Peduli Wujudkan Mimpi Kecil Mahesa, Temani Langkahnya Menuju Cita-Cita dengan Bantuan Sepeda

Bagi Mahesa (12), siswa kelas 6 SD Barunawati, Kota Semarang, berjalan kaki menuju sekolah telah menjadi bagian dari kesehariannya. Mahesa terbiasa menyusuri kawasan pesisir yang kerap tergenang air pasang laut atau rob

Dorong Sepeda Jadi Moda Harian, Diskusi Publik Soroti Transportasi Berkelanjutan di Denpasar

Dorong Sepeda Jadi Moda Harian, Diskusi Publik Soroti Transportasi Berkelanjutan di Denpasar

Lewat diskusi bertema “Bali Bicara Sepeda dan Ragam Gerakan Sosial Dibaliknya”, Penerbit Partikular, WRI Indonesia, bersama Koalisi Bali Emisi Nol Bersih mengajak publik melihat ulang posisi sepeda dalam kehidupan kota

Ditinggal Mandi Setengah Jam, HP Pemilik Warung di Jungutbatu Raib, Ini Terduga Pelakunya!

Ditinggal Mandi Setengah Jam, HP Pemilik Warung di Jungutbatu Raib, Ini Terduga Pelakunya!

Warung Yoga Shop di Desa Jungutbatu, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung kehilangan sejumlah barang dagangan dan satu unit handphone ketika pemiliknya pergi mandi sekitar 30 menit.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer