
BALIEXPRESS.ID-Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah lanskap cara manusia belajar, bekerja, dan berkarya. Dalam hitungan detik, AI mampu menghasilkan tulisan, merangkum pengetahuan, bahkan menyusun gagasan kompleks.
Namun di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kita sedang membangun peradaban yang lebih cerdas, atau justru mempercepat praktik instan yang mengikis makna berpikir? Fenomena penyalahgunaan AI semakin terlihat dan nyata. Banyak yang menggunakan AI semata untuk menyelesaikan tuntutan, seperti tugas – bukan untuk memahami, apalagi mengkritisi.
Menurut studi yang diterbitkan oleh jurnal Cognitive Research: Principles and Implications (2025) dan Trends in Cognitive Sciences (2016), proses berpikir yang seharusnya menjadi inti pembelajaran perlahan tergantikan oleh ketergantungan pada mesin – yang disebut sebagai “cognitive offloading” atau proses menggunakan alat lain (dalam hal ini AI) untuk berpikir dan menghasilkan produk pikir instan.
Baca Juga: Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Ditangani Profesional Lewat Peradilan Militer
Jika ini terus menerus dilakukan, kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif berpotensi terkikis karena ketergantungan yang berlebihan pada teknologi – atau disebut sebagai “cognitive athrophy.” Di sinilah risiko besar muncul: menurunnya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan refleksi mendalam – tiga hal yang justru menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan masa depan.
Momentum Hari Raya Saraswati menghadirkan refleksi yang sangat kontekstual, khususnya di masyarakat Hindu di Bali. Di hari raya ini, umat Hindu di Bali memuja Dewi Saraswati sebagai Sakti dari Dewa Brahma, berperan sebagai Pencipta, dan berdampingan menjaga siklus alamiah kehidupan bersama Dewa Wisnu (pemelihara) bersama Dewi Sri dan Dewa Siwa (Pelebur) bersama Dewi Durga.



