MBG Pacu Produksi dan Distribusi Pangan Nasional, Swasembada Kian Menguat
I Putu Suyatra• Kamis, 26 Februari 2026 | 13:13 WIB
MBG
BALIEXPRESS.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka terus menunjukkan dampak signifikan terhadap penguatan produksi dan distribusi pangan nasional. Hingga Februari 2026, MBG telah menjangkau sekitar 60 juta penerima manfaat dan ditargetkan mencapai 82 juta penerima paling lambat Desember 2026.
Tak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, MBG kini dinilai sebagai motor penggerak swasembada pangan sekaligus penguat ekonomi desa melalui kepastian permintaan pangan dalam skala besar dan berkelanjutan.
MBG Ciptakan Kepastian Pasar bagi Petani dan Desa
Founder The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR), Muhammad Makmun Rasyid, menilai dampak lanjutan MBG terasa kuat di sektor hulu, khususnya pertanian dan ekonomi perdesaan. Menurutnya, kebutuhan pasokan MBG yang konsisten menciptakan kepastian pasar bagi petani lokal.
“Permintaan yang stabil dari dapur-dapur MBG membuka peluang desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Ini memperkuat rantai pasok pangan nasional sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda di sektor pertanian,” ujar Makmun.
Ia menjelaskan, meningkatnya kebutuhan sayur, buah, telur, dan sumber protein lainnya mendorong aktivitas produksi, distribusi, hingga pengolahan pangan di tingkat lokal. Kondisi ini diyakini mampu menekan urbanisasi dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Dapur MBG Serap Jutaan Tenaga Kerja
Presiden Prabowo sebelumnya menegaskan bahwa MBG merupakan bagian dari strategi pembangunan nasional terintegrasi, sejalan dengan program pemeriksaan kesehatan gratis dan pemerataan pendidikan.
Saat ini, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah operasional mencapai 22.275 unit, sementara 13.829 unit lainnya masih dalam proses penilaian dan pengajuan.
“Dari sekitar 22 ribu dapur yang sudah berjalan, program MBG telah menciptakan kurang lebih satu juta lapangan kerja,” kata Presiden Prabowo.
Setiap dapur SPPG rata-rata mempekerjakan sekitar 50 orang per hari, mencerminkan dampak ekonomi langsung MBG terhadap penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi daerah.
Implementasi Daerah Perkuat Distribusi dan Standar Pangan
Di tingkat daerah, pelaksanaan MBG terus diperluas. SPPG Dawuan 2 UUT Beef di Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon, resmi mendistribusikan MBG perdana pada Jumat (20/2). Owner SPPG UUT Beef Dawuan, H Bastoni, memastikan seluruh sarana dan prasarana telah memenuhi standar keamanan pangan.
“Kami menyiapkan fasilitas dapur, armada distribusi, hingga sistem sanitasi air dengan teknologi reverse osmosis (RO) untuk menjamin mutu makanan,” jelasnya.
Seluruh pegawai dan relawan juga telah mengikuti pelatihan personal higiene serta diwajibkan memiliki Sertifikasi Layak Higiene dan Sanitasi dan Sertifikasi Layak Penggunaan Air Pakai sebagai bagian dari pengendalian mutu.
MBG Jaga Stabilitas Harga dan Produksi Pangan
Dari sisi perdagangan, Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai MBG memberi kepastian permintaan yang mendorong peternak ayam dan pelaku UMKM meningkatkan produksi.
“Sekarang permintaan menjadi pasti. Tidak lagi naik turun seperti sebelumnya,” ujarnya.
Berdasarkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga rata-rata nasional daging ayam tercatat Rp40.259 per kilogram, sedikit di atas harga acuan Rp40.000. Pemerintah memastikan pasokan tetap terjaga, termasuk saat periode permintaan tinggi seperti Lebaran dan Natal–Tahun Baru.
MBG Jadi Instrumen Strategis Swasembada Pangan
Dengan kepastian pasar, penguatan distribusi, penciptaan lapangan kerja, serta penerapan standar mutu pangan di tingkat dapur, Program Makan Bergizi Gratis dinilai sebagai instrumen strategis dalam memperkuat swasembada pangan Indonesia.
Pemerintah menegaskan MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkokoh fondasi ekonomi nasional berbasis desa dan kerakyatan, sekaligus mendorong kemandirian pangan jangka panjang.