BALI EXPRESS, DENPASAR - Polisi kembali menggelar rekonstruksi terbunuhnya anggota TNI, Prada Yanuar Setiawan, 20, Kamis (13/7). Dalam rekonstruksi itu, terungkap bahwa rekan korban tewas, Muahmmad Johari, 22 digebuki para ABG setelah diteriaki begal. Johari pun babak belur dan masih dirawat di rumah sakit. Sementara rekannya, Prada Yanuar tewas di tangan DKDA dkk di Jimbaran, Minggu pagi lalu (10/7)
Rekonstruksi TKP kedua digelar mulai pukul 17.00 hingga 18.00 wita. Di lokasi kedua ini, Muhammad Johari, 22 tumbang karena digebuki para pelaku. Johari mengalami luka cukup parah karena diteriaki begal sehingga mengundang kelompok motor lain yang kebetulan lewat untuk turut menghajar korban.
“Alasan RA bilang begal masih kami dalami. Setelah dicekik, korban Johari ini lari. Dan RA meneriakinya begal itu agar dia bisa menangkap korban,” terang Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Aris Purwanto kemarin.
Awalnya, Johari sebenarnya mempertanyakan kondisi rekannya Prada Yanuar yang tumbang ditusuk para pelaku. Tapi, saat bertanya itu, Johari ini mulai dicekik oleh inisial RA. Akhirnya Johari berusaha melarikan diri namun malah diteriaki begal.
Saat Johari menyeberang jalan justru tetap tertangkap dan kemudian dipukuli dan ditinggal terkapar. Salah satu kelompok yang turut memukuli Johari memang saat itu tengah melintas di TKP. Akibat teriakan begal tersebut akhirnya kelompok tersebut turut menendang dan memukuli korban.
“Hasil pemeriksaan yang ada hampir semua melakukan pemukulan di muka dan menendang juga. Ini masih kami lakukan pemeriksaan. Mereka tidak menggunakan alat hanya pakai tangan dan kaki,” imbuhnya.
Sampai sekarang belum ada penambahan tersangka. Sementara dari kelompok lain yang turut memukul Johari lantaran mendengar teriakan Bagal diantaranya KCA, KTS dan FH.
“Di TKP kedua ini ada lima orang pelaku. Dua di antaranya dari TKP pertama RA dan CI. Sisanya kelompok lain tersebut,” ujarnya.
Salah satu rekan pelaku yang saat itu turut menyaksikan namun tidak terlibat dalan pengeroyokan ikut mengantarkorban ke RS sebagai bentuk rasa kemanusiaan.
Editor : I Putu Suyatra