BALI EXPRESS, MANGUPURA - Bali Berduka. Salah satu kawan seperjuangan sekaligus sepupu almarhum pahlawan nasional, Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai, I Gusti Ngurah Raka berpulang Sabtu (16/9) lalu. Veteran 92 tahun asal Puri Carangsari, Petang, Badung tersebut wafat di usianya yang sudah uzur.
Kepergian pejuang kelahiran 1925 tersebut menyisakan kenangan mendalam bagi keluarga. Pasalnya, selama hidup I Gusti Ngurah Raka dikenal dengan ketegasannya. "Tidak ada yang berani sama beliau. Beliau dikenal sangat tegas, baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat," ujar putranya, AA Ngurah Wira Negara, didampingi saudaranya, AA Ngurah Suarka, AA Ngurah Widya Putra, serta sejumlah kerabat dan cucu almarhum, kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (18/9) kemarin.
Ketegasan tersebut, kata dia wajar, mengingat almarhum adalah salah satu pejuang yang tersisa saat perlawanan melawan penjajahan Jepang, 1942 silam. Selama perjuangan itu, beliau adalah salah satu tokoh penting, khususnya dalam menghimpun masyarakat Carangsari untuk menentang penjajah. Jabatannya adalah komandan staf I Arjuna Selatan, Pasukan Gerilya dalam Perang Kemerdekaan tahun 1946.
Menariknya, almarhum yang dikenal dengan nama samaran Werkudoro (nama lain dari tokoh Bima dari Pandawa) meninggalkan sebuah catatan yang tak diketahui waktu pembuatannya. Catatan di atas lembaran buku gambar tersebut berisi tentang sekelumit kisahnya yang hendak melakukan penyerangan ke tangsi Jepang di daerah Baha, Mengwi. Dalam catatan yang baru ditemukan setelah beliau meninggal tersebut disebutkan sejumlah tokoh, seperti I Gusti Ngurah Putra (mertua sekaligus pejuang yang meninggal di Pelaga, Petang), I Gusti Nyoman Sregeg (saudara almarhum), I Gusti Ngurah Anom Pacung (adik I Gusti Ngurah Rai), dan I Gusti Ngurah Raka (saudara almarhum dari Saren Kauh). "Intinya, beliau menulis, sempat mengumpulkan masyarakat untuk sama-sama bersumpah tidak akan membocorkan rahasia pergerakan pada zaman itu yang dipimpin oleh Pak Rai. yang berani membocorkan agar dikutuk Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa dan dibunuh oleh kawan seperjuangan," ujar AA Ngurah Widya Putra menimpali.
Selanjutnya, ketiga tokoh tersebut, yakni I Gusti Ngurah Rai, I Gusti Ngurah Anom Pacung, dan almarhum disebut sebagai Tri Tunggal, karena Ngurah Rai merupakan tokoh di tingkat Sunda Kecil, Anom Pacung di tingkat daerah tingkat II Badung, sedangkan almarhum di tingkat desa. "Jadi beliau bertiga memiliki peran yang sama dalam perjuangan. Hanya saja di tingkat berbeda, namun tetap menjadi satu-kesatuan," tambah AA Ngurah Suarka.
Ketua LVRI Cabang Petang yang sempat menjadi Perbekel Desa Carangsari selama 26 tahun yakni 1951 hingga 1977 tersebut memiliki empat istri, yakni almarhum I Gusti Ayu Raka Isma (putri I Gusti Ngurah Putra), Jro Jempiring, Jro Nyoman Wati, dan Jro Nyiman Puspa. Beliau meninggalkan 14 anak, yang terdiri dari 10 putra dan empat putri. Mereka adalah AA Kurniati, AA Ngurah Wira Negara, AA Supadmi, AA Sutini, AA Ngurah Sutapa, AA Ngurah Suarka, AA Ngurah Widya Putra, AA Ngurah Suta Wijaya, AA Ngurah Suwitra, AA Ngurah Suarjaya, AA Ngurah Raka Sukadana, AA Ngurah Swasti, AA Ngurah Sukamara, AA Ngurah Suka Eling. Di samping itu, mantan anggota DPRD Badung tersebut juga meninggalkan 40 cucu, dan 12 cicit.
Adakah pesan yang sempat ditinggalkan peraih tanda jasa Bintang Gerilya dan Bintang Kemerdekaan tersebut? AA Ngurah Wira Negara yang merupakan pensiunan pegawai di Humas Protokol Pemprov Bali tersebut mengatakan, almarhum I Gusti Ngurah Raka senantiasa menekankan soal persatuan. "Semboyan Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh. Itu sering ditekankan beliau. Khususnya di keluarga, beliau meminta agar kami senantiasa rukun dan menjaga persatuan," kenangnya.
Rencananya jenazah almarhum akan dimandikan pada 29 September mendatang, lanjut disemayamkan hingga palebon (diperabukan) 20 Desember 2017. "Intinya kami mohon doa agar atma beliau amor ring acintya (bersatu dengan-Nya)," tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra