BALI EXPRESS, BATURITI - Pura Luhur Pucak Candi Mas di Desa Pakraman Candikuning, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, diyakini merupakan sumber kesejahteraan dan pusat spiritual pada zaman dahulu.
Hingga kini umat tetap meyakini, jika Pura Luhur Pucak Candi Mas di Candikuning, Baturiti, Tabanan ini, memiliki fungsi untuk memohon kesejahteraan.
Tak sulit untuk menemukan pura ini, dari arah Denpasar kita hanya perlu menyusuri jalan menuju Singaraja, setelah sampai di Desa Candikuning kita akan menemui gang kecil masuk ke barat menuju lokasi Pura Luhur Pucak Candi Mas.
Jero Mangku Pura Desa lan Bale Agung Desa Pakraman Candikuning 1, I Putu Adi Sayindra didampingi Jero Mangku Pura Luhur Pucak Candi Mas, Ni Nyoman Adi, menjelaskan bahwa keberadaan Pura Luhur Pucak Candi Mas tertulis dalam sebuah buku kuna dimana disebutkan bahwa Pura Luhur Pucak Candi Mas merupakan pura tertua di Bali yang sudah ada sejak zaman batu, yang dibuktikan dengan adanya lingga di pura tersebut.
Dikatakannya lagi, dalam buku itu disebutkan jika dulunya Pura Luhur Pucak Candi Mas merupakan pusat pasraman dari sebuah kerajaan yang ada di dekat pura, sebelum tahun 700 Masehi. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya lingga di pura yang bentuknya sama dengan lingga yang ditemukan di bekas kerajaan tersebut, dimana lingga itu terbuat dari batu murni.
Diceritakan jika kerajaan itu sangatlah subur dan menjadikan lokasi pura saat ini sebagai pusat spiritual lengkap dengan pasraman untuk orang-orang yang ingin mempelajari spiritual lebih dalam.
Dan, secara niskala, pura yang berstatus Dang Kahyangan ini juga merupakan pusat kesejahteraan, dimana posisi pura dikeliling oleh gunung-gunung. “ Apa yang disampaikan pada buku itu, juga disampaikan oleh seorang sulinggih yang mampu melihat alam gaib, padahal tidak pernah saya sampaikan,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin di Baturiti.
Pura Luhur Pucak Candi Mas terdiri dari Utama Mandala yang terdapat sejumlah palinggih mulai dari Palinggih Padma, Palinggih Luhur Pucak Candi Mas, Palinggih Ratu Manik Galih, dan Bale Pasamuan. Pada Palinggih Luhur Pucak Candi Mas inilah terdapat lingga-yoni, lingga semu, celekontong batu berbentuk saluran air dan macan yang sudah pernah didata oleh Balai Arkeologi. “Lingga-yoni ini simbol negatif dan positif atau simbol purusa dan pradana yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan, sehingga krama yang pedek tangkil meyakini pura ini untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan,” paparnya.
Pada Palinggih Luhur Pucak Candi Mas juga terdapat sebuah pohon beringin yang sudah ada sejak zaman dulu. Karena pohon yang terus meninggi dan akar pohon yang semakin merambat, Balai Arkeologi sempat meminta krama untuk memotong akar pohon tersebut karena dikhawatirkan dapat merusak situs yang ada dibawahnya. Namun, setelah akarnya dipotong malah menimbulkan kericuhan dan kegaduhan di masyarakat. Sehingga, sampai saat ini pohon beringin tersebut tetap dijaga dan dipelihara.
Keunikan lainnya, dalam setiap upakara yang berlangsung di Pura Luhur Pucak Candi Mas, harus ada unsur beras kuning. Tak hanya itu, setelah Ida Sasuhunan masucian ke beji, maka wajib ada panyanggra berupa ajengan lengkap dengan lauk pauk yang dihaturkan di jaba tengah. Setelah dihaturkan, maka surudannya (makanan yang usai dipersembahkan) dinikmati seluruh pamedek, bahkan sampai berebut. “Dan, ini wajib dilaksanakan. Dulu pernah ditiadakan, dan itu ada efeknya,” imbuh Jero Mangku Sayindra.
Tak hanya itu saja, upakara di pura yang diempon oleh 319 KK di Desa Pakraman Candikuning ini, juga pantang menggunakan daging babi. Dan, pada penutupan pujawali wajib dihaturkan 11 macam nasi wong-wongan, di antaranya nasi wong-wongan berbentuk ular, kera, macan, burung sesapi, ayam hutan, gagak, segehan mancawarna, naga merah, bulan, matahari, dan nasi pelupuhan.
Ketika Pujawali di Pura Luhur Pucak Candi Mas yang jatuh setiap Buda Wage Klawu, maka juga turut 'dilibatkan' Pura Subaya di Kintamani, Bangli, Pura Tihingan di Plaga, Badung, dan Pura Leba di sebelah timur Banjar Tuka, Desa Perean, Baturiti. “Karena ketiga pura ini memiliki ikatan di mana yang berstana di Pura Subaya adalah anak perempuan dari pengurus di pura yang moksa di sini, di Pura Tihingan adalah anak perempuan kedua, dan di Pura Leba adalah anak laki-laki terkecil,” paparnya.
Editor : I Putu Suyatra